DEMOCRAZY.ID – Pakar Otonomi Daerah Djohermansyah Djohan menilai pesan Jokowi memakai filosofi Jawa, ditujukan kepada rezim pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dia menggapi video viral Jokowi yang berpidato menyampaikan pesan menggunakan filofosi Jawa, mengenai kekuasaan itu hanya sementara.
Djohermansyah mengatakan pidato Jokowi tersebut mengandung pesan yang ditujukan kepada pemegang kekuasaan sekarang.
Dia menilai Jokowi ingin rezim yang berkuasa saat ini tidak mengganggu bangunan-bangunan kekuasaan yang sudah dia bangun.
“Jokowi juga ingin pemegang kekuasaan tidak menggunakannya dengan vulgar dan keras,” katanya, dikutip dari Youtube Abraham Samad Speak Up, Senin (7/9).
Djohermansyah menyebut Jokowi mulai pecah kongsi dengan Prabowo Subianto, karena kepentingan-kepentingannya yang kurang diperhatikan.
Dia mencontohkan kepentingan yang dimaksud, yakni Ibu Kota Nusantara (IKN) yang tidak diberi anggaran yang cukup.
“Kemudian, Gibran kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan bernegara. Posisi duduknya (Gibran) pun disamakan dengan menteri,” ujarnya.
Djohermansyah mengatakan pesan Jokowi memakai filosofi Jawa itu, perlu dilihat oleh rezim yang sedang berkuasa.
Dia menyinggung video viral sebelumnya, yang menayangkan Ketum Projo Budi Arie Setiadi bicara potensi percepatan Pemilu, di samping Jokowi.
“Pesan itu agak keras. Kalau tidak ada respons rezim yang berkuasa, kemungkinan terus berlanjut,” ucapnya.
[FULL VIDEO]