Ungkit Peristiwa Tumbangnya Rezim Orde Baru, Budi Arie Kembali Beri ‘Peringatan Keras’ ke Prabowo!

DEMOCRAZY.ID — Ketua Sukarelawan Pro Jokowi (Projo), Budi Arie Setiadi, kembali melontarkan peringatan keras kepada pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto agar tidak terlena dan salah membaca konstelasi politik nasional saat ini.

Budi Arie mengaku mengendus adanya potensi gejolak politik besar yang dikhawatirkan dapat terjadi sebelum penyelenggaraan Pemilu 2029.

Guna memperkuat analisanya, mantan Menteri Koperasi itu lantas mengungkit kembali lembaran sejarah masa transisi krusial menjelang tumbangnya rezim Orde Baru pada periode 1997–1999 yang diwarnai krisis multidimensi dan gelombang reformasi.

“Saya cuma ingatkan kepada kawan-kawan semua, kita pernah punya pengalaman loh tahun 1997-1999. Sehingga kita harus menantikan situasi ini dengan cermat dan dingin,” kata Budi Arie, Sabtu (29/8/2026).

Menurut pandangannya, situasi politik hari ini menunjukkan gelagat yang mengarah pada dinamika serupa seperti era akhir 90-an, terutama dengan maraknya aksi demonstrasi mahasiswa dan kelompok masyarakat belakangan ini.

Fenomena tersebut, sebut Budi Arie, wajib dicermati secara saksama oleh pemerintah.

“Ada kegelisahan soal dinamika masyarakat. Ada trend baru gerakan mahasiswa, gerakan masyarakat. Ini harus kita kelola. Ini fenomena baru. Anomali gitu,” ujarnya.

Ia menilai ekspresi dan kesadaran publik dalam menuntut hak serta menyuarakan aspirasi merupakan bagian inheren dari demokrasi.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar penyelenggara negara memberikan respons yang bijak dan terukur agar langkah penyelesaian masalah tidak justru memicu polemik baru.

“Jangan memberi respons yang malah kontraproduktif bagi penyelesaian dan solusi permasalahan itu sendiri,” tegasnya.

Klarifikasi Soal Analisis Percepatan Pemilu

Peringatan ini kembali menyusul kehebohan publik atas pernyataan kontroversial Budi Arie sebelumnya.

Dalam sebuah potongan video rapat tertutup yang turut dihadiri oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), ia sempat melontarkan analisis mengenai kemungkinan adanya percepatan suksesi kepemimpinan yang dapat memangkas masa jabatan Presiden Prabowo Subianto.

Kendati ucapannya menuai kecaman dari berbagai faksi politik pendukung pemerintah, Budi Arie berupaya meluruskan maksud dari pernyataannya tersebut dengan menegaskan bahwa ucapannya murni sebatas pembacaan situasi, bukan sebuah ajakan makar.

“Bukan ajakan, analisa. Beda kan? Saya enggak berusaha meng-encourage atau mengajak,” ujarnya.

👇👇

Artikel terkait lainnya