DEMOCRAZY.ID – Muhammad Said Didu menyebut sejumlah gejala untuk menghancurkan pemerintahan Prabowo Subianto, oleh Geng Solo, Oligarki, dan Parcok. Dia menyinggung nama Jokowi.
Analis Kebijakan Publik itu menyinggung pernyataan pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie yang menyebut Prabowo hanya diberi waktu 2 tahun menjabat Presiden RI.
Said Didu menyoroti kasus eks Jampidsus Febrie Adriansyah.
Menurutnya, perkara itu merupakan serangan Geng Solo, Oligarki, Parcok ke Prabowo Subianto.
Dia mengungkapkan muncul penggiringan opini di media sosial, yang menyebut barang bukti emas ada hubungan dengan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin.
Barang bukti emas itu juga ada yang menyebut merupakan tabungan milik Prabowo Subianto untuk Pilpres 2029.
“Saya amati itu akun terafiliasi Geng Solo, Oligarki, Parcok. Jangan kasus Febrie, dibelokkan. Saya tidak membela Febrie,” katanya, dikutip dari Youtube Abraham Samad Speak Up, Kamis (20/8).
Said Didu menggunakan istilah yang dipakai Gatot Nurmantyo yang menyebut saat ini terjadi pembangkangan struktural.
Dia menyampaikan para menteri sudah tidak melakukan apa yang diinginkan Presiden Prabowo Subianto.
“Penertiban tambang, apakah Bahlil Lahadalia bicara? Penertiban hutan, Raja Juli Antoni pernah tidak bicara?” ujarnya.
Said Didu mengatakan Jokowi tidak rela kekuasaan dikendalikan Prabowo Subianto.
Dia menyinggung komentar eks Wali Kota Surakarta itu terhadap posisi duduk Gibran.
Jokowi berkomentar posisi duduk Gibran yang sejajar menko pada rapat kabinet, seharusnya sesuai dengan protokoler.
“Aturan protokoler ditentukan Setkab. Kalau dia (Jokowi) bijak, tidak perlu komentar posisi duduk anaknya,” ucapnya.