DEMOCRAZY.ID – Pengawal pribadi Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Rohim, mengungkap kronologi dirinya melontarkan pernyataan kontroversial terhadap seorang mahasiswa.
Cekcok yang videonya viral di media sosial itu terjadi di kawasan Tribun Lapangan Merdeka Kota Ambon, sesaat setelah upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI berakhir pada Senin (17/8/2026).
Dalam video berdurasi 46 detik yang beredar, Rohim terlihat mencegat seorang mahasiswa asal Seram Utara yang hendak menemui Gubernur Maluku untuk menyampaikan surat dari seorang kepala desa di Pulau Seram.
Rohim, yang merupakan pengawal pribadi Gubernur Maluku sekaligus oknum TNI, terlihat berusaha menghalangi mahasiswa tersebut.
Ia juga tampak memegang tangan dan beberapa kali mendorong mahasiswa serta berusaha mengambil sampul bambu berisi surat yang dibawa.
Dalam cekcok tersebut, Rohim melontarkan pernyataan yang kemudian menjadi sorotan dan viral di media sosial.
“Kau dengar ka seng (tidak), ada aturannya monyet ee. Hargai orang sedikit,” tegas Rohim.
Mahasiswa tersebut kemudian menanggapi pernyataan itu.
“Beta manusia Pak bukan monyet. Hargai kami menghargai dan kami hanya ingin kasih ini saja,” kata sang mahasiswa sambil menunjuk surat yang dipegang.
👇👇
Lihat postingan ini di Instagram
Rohim menjelaskan, awal mula persoalan tersebut terjadi usai upacara HUT Kemerdekaan RI di Lapangan Merdeka Ambon.
Setelah upacara selesai, Gubernur Maluku bersama Forkopinda bersiap meninggalkan lokasi upacara untuk agenda silaturahmi.
Di tengah situasi tersebut, Rohim mengaku melihat sejumlah mahasiswa di kawasan Tribun Lapangan Merdeka sedang membawa spanduk, karton manila dan beberapa alat peraga lainnya serta gerak-gerik mereka hendak melakukan sesuatu.
Sehingga ia berinisiatif untuk menanyakan maksud dan tujuan para mahasiswa tersebut.
“Saya sempat menanyakan apa maksud dan tujuan aksi mereka itu,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Rohim mengaku sempat menyarankan kepada para mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasinya kepada Gubernur Maluku agar sebaiknya melihat waktu dan kondisi.
Ia juga menawarkan akan memfasilitasi mahasiswa untuk menemui langsung Gubernur Maluku di kantor.
Namun, menurut Rohim, tawarannya tersebut ditolak oleh mahasiswa. Para mahasiswa, kata dia, tetap berupaya untuk mendekati Gubernur Maluku.
Situasi kemudian menjadi tegang ketika Rohim melihat ada seorang mahasiswa yang membawa potongan bambu.
Benda tersebut membuatnya curiga hingga ia harus memastikan keselamatan Gubernur dan pejabat lainnya di lokasi.
“Saya menjalankan protap untuk mengamankan keselamatan pejabat negara,” sebutnya.
Menurut Rohim saat situasi semakin memanas, ia kembali meminta mahasiswa untuk menghentikan aksi dan tidak mendekati gubernur.
Namun mahasiswa tetap memaksa menerobos barikade pengamanan untuk menemui gubernur.
Rohim mengaku dalam situasi yang kian memanas itulah, ia mengeluarkan pernyataan tersebut kepada mahasiswa yang akhirnya menuai sorotan publik.
Rohim mengungkapkan kalimat yang dilontarkan itu ditujukan kepada individu yang berada di hadapannya dan bukan ditujukan kepada suku tertentu.
Ia mengakui persoalan tersebut berkembang luas karena video yang beredar hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kejadian.
Rohim pun meminta masyarakat tidak mengonsumsi video secara sepotong-sepotong lalu membangun kesimpulan sendiri.
“Jangan sampai video beredar hanya dilihat dari satu bagian kemudian ditafsirkan subjektif. Saya ingin masyarakat melihat kronologinya secara utuh,” pintanya.
Terkait video viral yang menimbulkan kegaduhan tersebut Rohim lantas menyampaikan permohonan maafnya kepada publik di Maluku khususnya masyarakat Seram Utara.
“Saya menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi kemarin,” kata Rohim.
Rohim mengakui pernyataan yang dilontarkannya itu telah menimbulkan reaksi yang dapat melukai perasaan masyarakat tertentu.
Sehingga ia tidak ingin mencari pembenaran dalam kasus tersebut.
“Saya tidak berupaya untuk mencari pembenaran,” tuturnya.