DEMOCRAZY.ID — Pengamat politik senior Rocky Gerung melontarkan analisis spekulatif yang cukup menggelitik terkait masa depan politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Berdasarkan pembacaannya terhadap gestur dan dinamika kekuasaan, Rocky menilai Gibran kemungkinan besar sudah tidak lagi berniat untuk kembali menduduki kursi sebagai pendamping presiden di masa mendatang.
Pandangan tersebut disampaikan Rocky saat menanggapi momentum Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara pada Senin, 20 Juli 2026 lalu.
Dalam sidang tersebut, posisi duduk Gibran terpantau tidak berada persis di samping Presiden Prabowo Subianto, melainkan sejajar dengan jajaran para Menteri Koordinator.
Perubahan tata letak tempat duduk itu langsung memantik beragam spekulasi di ruang publik ihwal dugaan keretakan atau perubahan dinamika hubungan antara kepala negara dan wakil presiden.
“Masa tanya pada Prabowo tanya pada Gibran, ‘Lu masih mau jadi wapres enggak?’ Pasti dia bilang enggak,” ujar Rocky dalam tayangan di kanal YouTube Hendri Satrio Official, dikutip Jumat (14/8/2026).
Menurut Rocky, keengganan tersebut bukan karena penurunan minat terhadap kekuasaan, melainkan karena Gibran diyakini telah mematok target dan ambisi politik yang jauh lebih tinggi pada kontestasi-kontestasi ke depan.
“Karena dia mau jadi presiden,” imbuhnya.
Menanggapi berbagai spekulasi liar yang kadung bergulir di tengah masyarakat akibat perubahan formasi tempat duduk tersebut, pihak istana melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi langsung memberikan klarifikasi tegas guna meredam isu miring.
Mensesneg menegaskan bahwa pengaturan posisi duduk di dalam sidang kabinet paripurna sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan teknis operasional dan tata ruang persidangan, serta sama sekali tidak memiliki kaitan dengan isu keretakan politik antara Presiden Prabowo dan Wapres Gibran.
“Kalau saudara-saudara kemarin perhatikan adalah bapak presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari bapak wakil presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan,” ujar Prasetyo kala itu.