Pengamat Sentil Prabowo: Tugas Dia Cuma Omon-Omon dan Suka Melantur Kesana-Kemari!

DEMOCRAZY.ID — Gelombang kritik pedas terhadap gaya komunikasi politik ring satu Istana tak pernah surut.

Kali ini, pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto melontarkan kritik menohok yang langsung menyasar Presiden Prabowo Subianto lewat akun media sosial pribadinya pada Senin (3/8/2026).

Melalui cuitan yang sarat akan sindiran satir, Gigin menyoroti substansi pidato kepala negara yang dinilainya kerap melebar, serta menyoroti peran para pembantu dan pendukung di sekeliling presiden yang dinilai justru memperkeruh keadaan alih-alih memberikan klarifikasi yang objektif.

“Tugas presiden omon-omon melantur ke sana-kemari. Tugas penjilatnya meluruskan omon-omonnya supaya makin gak jelas,” tulis Gigin tajam.

Ketidakpuasan terhadap arah kebijakan dan narasi Istana membuat Gigin semakin blak-blakan menelanjangi kepincangan mentalitas para elite penguasa saat ini.

Dalam pandangannya, panggung kekuasaan hari ini lebih mirip teater retorika ketimbang ruang penyelesaian krisis.

“Mereka asyik sendiri memproduksi narasi ketakutan dan musuh imajiner, sementara dapur rakyat di rumah-rumah warga sudah lama padam!” tegasnya.

Ia juga menyoroti bagaimana para penjilat kekuasaan berlomba-lomba membeo setiap kata yang keluar dari mulut pemimpinnya, tanpa peduli apakah kebijakan tersebut masuk akal atau justru mempermalukan kewibawaan negara di mata rakyatnya sendiri.

“Mental ABS (Asal Bapak Senang) pelindung kekuasaan itu sudah akut. Apa pun yang diucapkan junjungannya, meski itu ngawur dan melantur, pasti dibela mati-matian demi jabatan dan jatah kue kekuasaan!” tandas Gigin.

“Kalau penguasa kerjanya hanya menyalahkan pihak luar dan sibuk mencari kambing hitam lewat retorika kosong, jangan heran kalau legitimasi moral pemerintah ambruk dengan sendirinya!” cetusnya.

“Rakyat butuh bukti kerja nyata dan perut kenyang, bukan kutukan sejarah atau istilah-istilah kolonial yang diulang-ulang tiap minggu hanya untuk menutupi kepanikan politik di tingkat elite!” tambahnya dengan nada geram.

Deretan pernyataan menohok tersebut kontan memantik polemik dan membelah opini publik di dunia maya.

Sebagian warganet memandang ekspresi tersebut sebagai bentuk kebebasan berpendapat yang sah dalam negara demokrasi untuk mengontrol penguasa, sementara sebagian lainnya menilai diksi yang digunakan terlalu keras dan lepas dari koridor kritik yang konstruktif.

Istilah “omon-omon” sendiri sebelumnya sempat melekat dalam memori publik setelah Presiden Prabowo kerap menggunakannya dalam berbagai kesempatan resmi guna menyindir para pejabat agar lebih memfokuskan diri pada aksi nyata ketimbang sekadar retorika kosong.

Ironisnya, kini diksi tersebut justru berbalik arah dan dilekatkan kembali oleh pengamat untuk mengkritik gaya komunikasi sang presiden sendiri.

Artikel terkait lainnya