DEMOCRAZY.ID — Panggung politik nasional kembali memanas menyusul silang pendapat antara mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal dan Sekretaris Kabinet Mayor Inf. Teddy Indra Wijaya.
Hubungan panas-dingin ini mencuat ke permukaan setelah kritik konstruktif terkait lawatan luar negeri Presiden Prabowo Subianto dibalas dengan sindiran menohok ihwal rekam jejak masa lalu.
Meski dihantam sentimen terbuka dari ring satu Istana, Dino Patti Djalal mengaku sama sekali tidak ambil pusing dengan sindiran telak yang diarahkan kepadanya.
“Pertama saya tidak pernah merasa tersinggung ya karena saya tidak pernah take things personal gitu ya,” ujar Dino di Jakarta.
Dino justru memandang riuh rendah polemik di dunia maya sebagai sebuah fenomena menarik yang membongkar kekuatan algoritma dan diseminasi informasi publik di era digital.
Pengalaman diserang secara terbuka di ruang publik justru memperluas perspektifnya terhadap peta kekuatan media sosial hari ini.
“Saya justru mata saya semakin terbuka dengan apa yang terjadi belakangan ini ya dengan video di sosmed saya yang menjadi viral dan menjadi bahan pembahasan publik,” tambahnya.
Gesekan terbuka ini bermula ketika Dino memberikan pandangan kritis terkait frekuensi lawatan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Mengingat efisiensi anggaran dan perkembangan teknologi, Dino sempat menyarankan agar kunjungan kenabian secara fisik tersebut dapat dikurangi dengan memaksimalkan format diplomasi virtual.
Menanggapi kritik tersebut, Seskab Teddy Indra Wijaya tidak tinggal diam.
Perwira menengah TNI yang mendampingi ring teras Istana itu melontarkan pembelaan sekaligus menyindir durasi masa jabatan Dino tatkala dipercaya menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri di masa lampau.
“Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan,” sentil Seskab Teddy.
Tidak hanya menyerang rekam jejak, Teddy juga mengklarifikasi polemi anggaran dinas luar negeri Presiden yang sebelumnya sempat dinilai menghamburkan uang negara.
Ia menegaskan secara transparan bahwa seluruh kelebihan biaya perjalanan luar negeri yang melampaui alokasi APBN ditanggung sepenuhnya secara pribadi oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi yang pertama, masalah biaya bila ke luar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali, jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” tegas Teddy.
Perang urat syaraf antara mantan pejabat diplomatik senior dan figur sentral penggerak birokrasi Istana ini sekali lagi mempertontonkan bagaimana kritik kebijakan luar negeri kerap bergeser menjadi panggung adu pengaruh di lingkaran kekuasaan tertinggi republik.