Solo Raya Bakal Jadi Medan Perang Darah: Langkah Politik Kaesang Gempur Kandang Banteng Picu Gempa Politik Nasional!

DEMOCRAZY.ID – Keputusan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep untuk maju sebagai calon anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) V Jawa Tengah atau Solo Raya pada Pemilu Legislatif 2029 dinilai bukan sekadar strategi elektoral, melainkan mengandung pesan politik yang jauh lebih besar.

Pengamat politik dan jurnalis senior Hersubeno Arief menilai langkah tersebut dapat dibaca sebagai simbol dimulainya pertarungan terbuka antara poros politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, melalui representasi langsung putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani.

Analisis itu disampaikan Hersubeno Arief dalam tayangan kanal YouTube Hersubeno Point yang diunggah pada 26 Juli 2026 bertajuk “Nekad! Pemilu Masih Jauh, Kaesang Sudah Tantang Puan. Jokowi Mulai Cari Gara-gara Lawan Megawati?”.

“Jelas, secara tradisional itu dalam wilayah yang masih dalam pengaruh kuat bapaknya yakni mantan Presiden Joko Widodo. Jadi sangat logis kalau dia mencalonkan diri di wilayah itu dengan mengandalkan coattail effect bapaknya sehingga secara kalkulasi akan lebih mudah memenangkan kursi parlemen dari dapil tersebut,” ujar Hersubeno.

Namun, ia menilai alasan tersebut bukan satu-satunya pertimbangan.

Menurutnya, Dapil V Jawa Tengah selama ini dikenal sebagai salah satu “kandang banteng”, basis tradisional PDI Perjuangan yang secara konsisten mendominasi perolehan suara.

Hersubeno mengingatkan, pada Pemilu Legislatif 2024, PDIP meraih dua dari delapan kursi DPR dari dapil tersebut.

Selain itu, Puan Maharani juga memperoleh kursi dari Solo Raya dengan raihan suara tertinggi, sementara secara akumulasi PDIP tetap menjadi partai dengan suara terbanyak di wilayah tersebut.

Karena itu, ia menilai pencalonan Kaesang di dapil yang sama memiliki makna politik yang lebih luas.

“Dengan memastikan Kaesang maju di Dapil Solo Raya, maka sesungguhnya jauh-jauh hari Kaesang sudah memberi aba-aba bahwa dia akan menantang hegemoni Puan Maharani. Dalam konteks relasi antara Jokowi dengan Megawati, ini adalah tantangan terbuka dari seorang kader PDIP yang membelot dari mentor yang telah membesarkannya menjadi Presiden Republik Indonesia selama dua periode. Ini semacam mulai cari gara-gara jauh sebelum pemilu berlangsung,” katanya.

Pernyataan tersebut dikaitkan dengan pidato Kaesang saat menghadiri Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PSI di Kota Solo, Sabtu (25/7/2026).

Dalam kesempatan itu, Kaesang mengingatkan pentingnya pembagian wilayah kerja antarcalon legislatif agar tidak saling berebut suara.

“Pesan yang ingin saya sampaikan adalah salah satunya antarcaleg ke depannya harus dibagi teritori. Supaya apa? Tidak saling gesekan, tidak saling memakan suara kawannya sendiri. Pesan yang saya sampaikan tadi bukan pesan saya sebagai ketua umum, tapi pesan saya sebagai bakal calon legislatif RI di Dapil 5 Solo Raya, Jawa Tengah,” ujar Kaesang.

Bagi Hersubeno, pernyataan tersebut memang disampaikan secara singkat, namun memiliki makna simbolik yang sangat kuat.

“Ini simbolisme politik tingkat tinggi. Gong sudah ditabuh, gong sudah ditalu. Ini seteru dua dinasti,” ucapnya.

Ia menjelaskan, pertarungan itu mempertemukan representasi langsung trah politik Joko Widodo melalui putra bungsunya, Kaesang Pangarep, dengan trah Soekarno melalui Puan Maharani, putri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Menurut Hersubeno, situasi tersebut sekaligus memperlihatkan kelanjutan keretakan hubungan politik antara Jokowi dan Megawati pasca-Pilpres 2024.

“Jokowi yang awalnya merupakan petugas partai PDIP kini secara terbuka membangun poros kekuatan politik mandiri di luar kendali Megawati, bahkan berani langsung menantangnya secara head to head dengan memilih mencalonkan Kaesang di Dapil 5 Solo Raya,” katanya.

Ia bahkan menyebut langkah tersebut sebagai simbol dimulainya perebutan basis politik PDIP.

“Ini adalah simbol bahwa mereka menabuh genderang penaklukan kandang banteng. Dapil 5 Solo Raya adalah simbol utama kandang banteng dan juga sekaligus daerah asal Jokowi. Menempatkan Kaesang di sini adalah upaya langsung untuk mengalihkan basis massa loyal PDIP menjadi pemilih PSI atau loyalis Jokowi,” ujar Hersubeno.

Lebih lanjut, ia menilai apabila PSI mampu memperoleh kursi signifikan di wilayah tersebut, maka hal itu dapat dimaknai sebagai keberhasilan meruntuhkan dominasi politik PDIP di Solo Raya.

“Hal ini bisa ditangkap sebagai upaya Jokowi meruntuhkan mitos bahwa kandang banteng tidak tersentuh jika PSI mampu mengamankan kursi signifikan di dapil ini,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari PDI Perjuangan, Puan Maharani, maupun pihak Joko Widodo terkait analisis politik yang disampaikan Hersubeno Arief mengenai pencalonan Kaesang Pangarep di Dapil V Jawa Tengah tersebut.

Dengan demikian, pandangan yang disampaikan dalam tayangan tersebut merupakan analisis dan pendapat narasumber yang menjadi tanggung jawabnya.

Artikel terkait lainnya