DEMOCRAZY.ID – Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun, mematahkan statement Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, yang mengatakan tidak ada sosok lebih baik daripada Gibran Rakabuming Raka.
Refly membandingkan Gibran dengan sejumlah tokoh yang dinilainya memiliki kapasitas lebih mumpuni.
Salah satu nama yang disebutnya adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang sama-sama merupakan putra mantan presiden.
Dikatakan Refly, jika Gibran dibandingkan secara langsung dengan AHY, terdapat perbedaan dalam hal pendidikan dan kualitas yang ia nilai cukup berjarak.
Refly menegaskan pernyataannya bukan sekadar soal sentimen politik.
Ia mengaku sedang berbicara mengenai kualitas seorang tokoh.
“Saya kira beribu-ribu kali beribu-ribu orang lebih jauh lebih berkualitas dibandingkan Gibran. Saya bicara kualitas loh, ya,” ujar Refly, dikutip fajar.co.id, Selasa (6/10/2026).
Refly kemudian memberikan contoh dengan membandingkan Gibran dan AHY.
“Dan ini kan hal yang bagi saya masih masuk akal. Kalau head to head sama AHY misalnya sama-sama anak presiden, saya kira AHY jauh lebih educated, jauh lebih meyakinkan,” tukasnya.
Tidak hanya AHY, Refly juga menyebut masih banyak figur lain yang menurutnya memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin.
Ia bahkan membawa nama Anies Baswedan sebagai salah satu tokoh yang dinilainya menonjol.
“Apalagi head to head dengan tokoh-tokoh masyarakat yang memang menonjol dengan Anies Baswedan juga,” sebutnya.
Refly menekankan bahwa keberadaan banyak figur tersebut menunjukkan pilihan calon pemimpin tidak hanya berkutat pada satu nama.
“Saya kira banyak kita yang calon-calon pemimpin yang sebenarnya jauh lebih qualified, jauh lebih tidak bermasalah dibandingkan seorang Gibran. Kan begitu,” tegasnya.
Tidak berhenti di situ, Refly kemudian mengaitkan kapasitas Gibran dengan rekam jejak pemerintahan ayahnya, Jokowi.
“Dan jangan lupa 10 tahun bapaknya memerintah juga Indonesia hancur. Ya kita bukan dengan sentimen tapi dengan indikator. Utang luar negeri coba berapa?,” timpalnya.
Refly kemudian membandingkan posisi utang pemerintah pada akhir pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan periode setelah Jokowi memimpin.
“Tapi Jokowi berkuasa itu 2.600 itu mulai dari tahun 45 sampai terakhir SBY berkuasa. Bayangkan 2014, cuma 2.600,” terangnya.
Kata Refly, setelah Jokowi menjabat, posisi utang pemerintah meningkat hingga sekitar Rp8.000 triliun.
“Begitu Jokowi berkuasa berapa utang? 8.000 dia tingkatkan. 8.000, kurang lebih 8.000 triliun, bayangkan,” cetusnya.
Sebagai pembanding, data Kementerian Keuangan mencatat utang pemerintah sekitar Rp8.253,09 triliun pada Januari 2024 dan Rp8.502,69 triliun pada Juli 2024.
Refly juga menyinggung konsekuensi utang pemerintah terhadap masyarakat.
“Utang kita semua yang nanggung. Iya, makanya dibilang kalau kita dihitung, setiap bayi yang lahir, wah gitu,” imbuhnya.
Ia kemudian menyebut besaran beban utang per orang yang menurutnya sudah mencapai puluhan juta rupiah.
“Itu sudah punya utang puluhan juta. Hitungannya 30 juta, Bang. Lebih sekarang mungkin. Lebih. Lebih, 30 juta sudah sudah lewat angka itu. Karena angka itu terus-menerus naik,” terangnya.
Lanjut Refly, tingginya beban utang turut berpengaruh terhadap ruang fiskal pemerintah.
“Kita kekuatan fiskal kita kan enggak. Enggak bisa. Kita hanya bisa gali lubang tutup lubang, terpaksa kita pinjam lagi juga,” Refly menuturkan.
“Jadi gali lubang tutup lubang. Oke. Gali ini untuk nutupi ini. Bayangkan kalau misalnya kita punya APBN itu 3.500 sampai 4.000 dan sepertiganya utang untuk bayar utang. Ya itu you can imagine bagaimana ruang fiskal kita,” tambahnya.
Refly bilang, kondisi tersebut membuat ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas.
“Sempit sekali, makanya tidak heran Menteri Keuangan jadi menteri pemburu pajak rakyat. Semua dipajakin sama dia untuk memperoleh penghasilan,” kuncinya.
Sebelumnya, Ahmad Ali menegaskan Gibran memiliki posisi yang cukup kuat jika kembali masuk dalam bursa calon wakil presiden di Pilpres 2029.
Pengalaman sebagai wakil presiden menjadi salah satu alasan yang ia gunakan untuk menilai Gibran lebih unggul dibanding kandidat lain.
“Pertanyaan saya, kenapa saya katakan tidak ada cawapres yang lebih baik dari Gibran, tunjukkan sama saya dari sekian nama-nama itu adakah yang punya pengalaman wapres?” ujar dia.
Sikap tersebut sejalan dengan posisi politik PSI saat ini.
Ali mengatakan partainya masih berfokus mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran dan memastikan program pemerintah berjalan.
PSI diketahui menjadi bagian dari Koalisi Indonesia Maju Plus yang mendukung Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024.
Setelah pasangan tersebut memenangkan pemilu, sejumlah kader PSI kemudian masuk ke pemerintahan.
Salah satunya adalah Raja Juli Antoni yang dipercaya menjadi Menteri Kehutanan.
Bagi Ali, keberadaan kader PSI di pemerintahan sekaligus menjadi bagian dari kesinambungan dukungan politik partainya terhadap Prabowo-Gibran.
“Kenapa tidak kita kemudian berpikir untuk menyandingkan kembali di periode kedua,” ucapnya.