Putusan MK Soal Ijazah Gibran Berpotensi Picu ‘Impeachment’? Pengamat Minta Prabowo Ekstra Waspada!

DEMOCRAZY.ID – Pengamat Politik, Tony Rosyid, menyebut bahwa putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 6 Oktober lalu terkait syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpotensi memicu gelombang impeachment.

Dikatakan Tony, meskipun MK tidak berwenang mengabulkan gugatan tersebut, putusan itu menjadi amunisi baru bagi pihak-pihak yang ingin melengserkan Gibran.

Tony mengungkapkan bahwa pasca putusan MK, dunia politik Indonesia mulai remang-remang.

Nilai tukar rupiah melemah, IHSG merah, dan investor mulai khawatir melihat prospek Indonesia ke depan.

“Pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) 6 oktober lalu, dunia politk Indonesia mulai remang-remang. Rupiah kena imbasnya: melemah. IHSG merah. Para investor mulai ngeri lihat Indonesia kedepan,” ujar Tony , Selasa (13/10/2026).

Putusan MK: Gibran Terbukti Tidak Punya Ijazah Setara SMA

Tony menyentil bahwa dalam putusan MK, Gibran dengan sangat meyakinkan terbukti tidak memiliki ijazah setara SMA atau sederajat.

Meski demikian, pihak penggugat tidak memiliki legal standing dan gugatannya salah alamat.

MK, kata Tony, tidak punya kewenangan mengabulkan gugatan itu.

“Di antara keputusan MK, Gibran dengan sangat meyakinkan terbukti tidak memiliki ijasah setara SMA atau sederajat. Tetapi, pihak penggugat tidak memiliki legal standing dan gugatannya salah alamat. MK tidak punya kewenangan mengabulkan gugatan itu,” jelasnya.

Tony kemudian menggunakan teori ‘Butterfly Effect’ Edward Lorenz untuk menggambarkan potensi putusan MK yang bisa menjadi ledakan politik di tempat lain.

“Menggunakan teori ‘Butterfly Effect’ Edward Lorenz, putusan MK justru berpotensi menjadi ledakan politik di tempat lain. Ini bahkan lebih berbahaya bagi Gibran,” tegasnya.

Ia menyebut bahwa saat ini sedang ada konsentrasi gerakan untuk impeachment Gibran.

Gerakan itu datang dari orang yang punya akses sangat dekat ke istana, sejumlah partai, dan barisan civil society, terutama mereka yang secara historis memiliki persoalan dengan Jokowi.

Analisis Max Weber: Empat Motif Impeachment

Tony menggunakan teori Max Weber untuk membedah motif di balik gerakan impeachment.

Menurut Weber, ada empat motif seseorang melakukan tindakan: rasionalitas instrumental, rasionalitas nilai, affectual action, dan traditional action.

Pertama, rasionalitas instrumental.

Tony menyebut bahwa pihak yang diuntungkan jika Gibran dilengserkan adalah PDIP dan Nasdem yang elektabilitasnya terancam oleh PSI.

Sementara AHY, putra mahkota Demokrat, adalah pesaing Gibran.

Ketiga partai ini diuntungkan jika Gibran jatuh.

Kedua, rasionalitas nilai.

Ini datang dari para akademisi yang menginginkan Indonesia tertib secara hukum.

Mereka adalah kelompok idealis yang jauh dari kepentingan pragmatis.

Ketiga, affectual action.

Ini datang dari pihak-pihak yang secara historis punya masalah dengan Jokowi dan keluarganya, terutama saat Jokowi berkuasa 10 tahun.

Kekecewaan dan kemarahan mereka berpotensi menjadi kekuatan emosional yang mendorong lahirnya balas dendam.

Keempat, traditional action.

Ini diperankan oleh publik yang ikut gelombang isu.

Ke mana arah angin, publik menjadi bagian dari kekuatan massa yang ikut arus mainstream.

Bola Liar Bisa Menyasar Prabowo

Tony mengingatkan bahwa ketika impeach kepada Gibran dibuka, maka bola liar bisa juga digiring untuk menyasar Prabowo.

Jokowi, katanya, bisa menjadi faktor konsolidasi bagi semua musuh Prabowo untuk meningkatkan perlawanan.

“Prabowo perlu menghitung dengan cermat bola liar ini. Ketika impeach kepada Gibran dibuka, maka bola liar bisa juga digiring untuk menyasar Prabowo. Jokowi bisa menjadi faktor konsolidasi bagi semua musuh Prabowo untuk meningkatkan perlawanan. Perlawanan Jokowi dipastikan akan sangat masif dan ‘at all cost’,” tegasnya.

Tony memaparkan dua konsekuensi jika Gibran lengser.

Pertama, isu publik akan terkonsentrasi kembali ke istana, terutama berkaitan dengan kelemahan dan kekurangan istana. Ini akan sangat merepotkan.

Kedua, dengan lengsernya Gibran, empati publik ke Jokowi boleh jadi berangsur naik kembali.

“Ini bisa menjadi faktor penambah energi bagi Jokowi untuk memasifkan perlawanan,” imbuhnya.

Tony juga menekankan bahwa proses impeachment Gibran akan memakan waktu panjang dan berlarut-larut.

Ini punya konsekuensi bukan hanya politik, tapi juga ekonomi.

“Potensi rontoknya ekonomi sebagai dampak langsung dari situasi politik yang tidak kondusif bisa menjadi hantaman balik terhadap pemerintahan Prabowo sendiri,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya