Posisi Prabowo Disorot Tajam: Pilih Pinggirkan Gibran atau Terus ‘Hidup’ di Bawah Bayang-Bayang Jokowi?

DEMOCRAZY.IDPengamat politik Syahganda Nainggolan menilai posisi politik Presiden Prabowo Subianto terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hingga kini masih menyisakan ketidakpastian.

Ia bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa Prabowo dapat mengambil langkah penyingkiran politik terhadap Gibran, mirip dengan dinamika retaknya aliansi kekuasaan antara Presiden Filipina Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. dan Wakil Presiden Sara Duterte.

Sebagaimana diketahui, meski pada mulanya maju sebagai kekuatan aliansi gabungan dua dinasti besar melalui koalisi UniTeam, hubungan politik di Filipina tersebut belakangan pecah hingga berujung pada peminggiran Sara Duterte secara sistematis dari lingkaran utama kekuasaan.

“Kalau misalkan kita lihat misalkan antara Sarah Duterte di Filipina ya kan wakil presiden dengan Bongbong Marcos misalnya seperti itu. Itu kan penyingkirannya kan penyingkiran politik. Nah, itu juga bisa dilakukan oleh Pak Presiden Prabowo untuk semakin melakukan penyingkiran politik,” ujar Syahganda dalam tayangan di kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Selasa (1/9/2026).

Teka-Teki Sinyal Politik dan Peran Wapres

Menurut Syahganda, sikap inkonsisten yang diperlihatkan di ruang publik membuat masyarakat kerap berada dalam kebingungan membaca arah hubungan antara orang nomor satu dan nomor dua di Indonesia tersebut.

Ia mencontohkan bagaimana Gibran terkadang tidak disertakan dalam lawatan perjalanan dinas penting, atau tidak mendapatkan pendelegasian peran kepemimpinan rapat kabinet secara aktif seperti yang lumrah dijalankan oleh wakil presiden era terdahulu, misalnya Jusuf Kalla.

Di sisi lain, dinamika gestur politik kerap memunculkan tafsir yang kontradiktif.

Di satu momen, Prabowo secara terbuka pernah memekikkan dukungan politik kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo saat perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Bogor, pada Februari 2025 lalu.

“Dan saya katakan di sini, kita berhasil karena kita didukung oleh Presiden ke-7 (Jokowi). Tepuk tangannya kurang semangat! Semangat lagi. Hidup Jokowi!” pekik Prabowo di hadapan para elite Koalisi Indonesia Maju (KIM).

Namun, di momen kenegaraan lain—seperti pada perayaan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026)—Prabowo tampak duduk diapit secara berdampingan oleh Jokowi dan Gibran.

Berbagai sinyal yang tampak bolak-balik inilah yang dinilai Syahganda terus memicu tanda tanya besar di kalangan pengamat mengenai sejauh mana batas pengaruh dan soliditas poros kekuasaan saat ini.

Artikel terkait lainnya