PDIP Beri Peringatan: Jokowi Masih Suka ‘Main Raja-Rajaan’, Prabowo Harus Waspada!

DEMOCRAZY.ID — Safari politik mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali memantik alarm bahaya di lingkaran elite nasional.

Gelar adat yang sempat mewarnai kunjungannya ke Nusa Tenggara Timur (NTT) dibongkar habis oleh politisi PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, sebagai bungkus simbolik dari ambisi kekuasaan yang tak pernah padam.

“Main Raja-rajaan”: Ketika Gelar Adat Dituding Rekayasa Simbolik

Kritik tajam ini bermula dari polemik penobatan kehormatan di NTT yang langsung diklarifikasi oleh Raja Amanuban, Pina Ope-Nope.

Guntur membeberkan bahwa sang raja secara tegas membantah adanya prosesi penobatan maupun pembahasan ihwal pengukuhan Jokowi sebagai Raja Timor.

Kehadiran para tokoh adat murni sebatas jamuan budaya untuk menghormati tamu negara, bukan memberikan mandat kekuasaan tradisional.

Dari situlah Guntur melihat adanya produksi narasi sesat yang sengaja dibangun untuk mengesankan seolah sang mantan presiden masih memegang legitimasi magis-kultural di daerah.

“Mengapa Jokowi masih main raja-rajaan? Dan mengapa Presiden Prabowo harus waspada?” cetus Guntur telak.

Ia menilai, pengerahan simbol-simbol kerajaan dan sambutan adat yang kemudian diviralkan melalui mesin media sosial merupakan bentuk perawatan popularitas demi merajut kembali modal politik pribadi.

“Fenomena ini bukan sekali dua kali. Jokowi masih doyan main raja-rajaan karena nafsu kekuasaannya tidak pernah benar-benar padam,” ucapnya.

Lampu Kuning Istana: Konsolidasi Senyap di Tengah Penurunan Kepercayaan Publik

Lebih jauh, Guntur memperingatkan Presiden Prabowo Subianto agar tidak terkecoh dengan membaca safari politik sang pendahulu sebagai wujud dukungan terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.

Terlebih, manuver tersebut bergulir di tengah tren kepuasan publik terhadap kinerja kabinet yang dikabarkan tengah melandai, sehingga gerilya politik ke daerah dinilai lebih condong sebagai ajang konsolidasi basis massa kelompok tersendiri.

“Safari Jokowi ke berbagai daerah termasuk ke NTT tidak bisa dibaca sebagai dukungan kepada pemerintah Prabowo. Justru sebaliknya, di tengah kepuasan publik terhadap Prabowo yang tengah menurun, manuver Jokowi lebih tepat dibaca sebagai konsolidasi basis massa untuk kelompoknya sendiri, bukan untuk menopang Prabowo,” jelasnya.

Bagi Guntur, bayang-bayang kekuasaan masa lalu tidak boleh dianggap sepele oleh istana karena berpotensi menjadi duri dalam daging bagi stabilitas kepemimpinan nasional jangka panjang.

“Saya sudah mengingatkan hal ini beberapa bulan yang lalu. Bayang-bayang Jokowi tidak akan pernah benar-benar pergi dari panggung kekuasaan,” tegasnya.

“Presiden Prabowo perlu membaca gerakan itu bukan sebagai bantuan, melainkan sebagai bayang-bayang yang terus mengintai posisi Presiden Prabowo sendiri,” pungkas Guntur memperingatkan.

Artikel terkait lainnya