

DEMOCRAZY.ID — Panggung ekonomi dan politik nasional kembali diguncang oleh pengakuan mengejutkan dari ekonom senior Ferry Latuhihin.
Setelah secara konsisten melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ferry mengaku mendadak didatangi oleh petugas pajak serta menerima serangkaian surat pemeriksaan terkait aset dan penghasilannya.
Kisah tersebut dibeberkan secara blak-blakan oleh Ferry saat berbincang bersama kreator konten Ferry Irwandi dan pakar hukum tata negara Feri Amsari melalui tayangan di kanal YouTube Malaka.
Ferry menceritakan bahwa teror administratif bermula sekitar dua bulan lalu ketika petugas pajak mendatangi alamat lamanya.
Tak lama berselang, ia mendapati petugas membawa surat resmi yang memuat daftar aset mewah yang diklaim sebagai miliknya.
Ekonom senior itu mengaku terkejut sekaligus heran lantaran surat tersebut mencantumkan sejumlah mobil mewah berharga fantastis, seperti merek Jaguar dan Porsche, yang dikaitkan dengan namanya.
Padahal, kendaraan-kendaraan tersebut diakuinya memang pernah ia miliki, namun sudah dilepas dan berpindah tangan sejak belasan tahun lalu.
“Rumah saya besar, tetapi silakan dilihat ada mobil atau tidak. Saya sudah tidak memakai mobil tujuh tahun,” tegas Ferry, seraya menambahkan bahwa dalam aktivitas sehari-hari ia justru lebih memilih menggunakan transportasi umum seperti LRT atau layanan ojek daring.
Merasa kebingungan, rentetan surat tersebut tidak berhenti di situ.
Ferry mengaku kembali menerima surat panggilan kedua, ketiga, hingga keempat dari kantor pajak yang dinilai isinya hanya berputar-putar tanpa substansi kejelasan yang baru.
Karena merasa tidak memiliki rekam jejak pengemplangan pajak atau hal-hal yang perlu ditutupi, Ferry memutuskan untuk mengabaikan panggilan-panggilan tersebut.
Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa rangkaian surat bertubi-tubi itu terasa laiknya bentuk teror terselubung dan upaya kriminalisasi.
Meski begitu, ia tetap bersikap objektif dengan mengakui bahwa anggapan tersebut masih sebatas asumsi pribadi lantaran belum ada bukti konkret yang menghubungkan langsung pemeriksaan pajak itu dengan kritik tajamnya kepada pemerintah.
Gelombang kritik yang dilontarkan Ferry Latuhihin terhadap kepemimpinan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memang bukan rahasia lagi.
Sebelumnya, Ferry secara terbuka mendesak agar Presiden segera mencopot Purbaya dari kursi bendahara negara karena dinilai memiliki pemahaman yang minim terhadap mekanisme ekonomi makro.
Ferry mengungkapkan bahwa ketidakpercayaannya kepada Purbaya berakar dari pengalaman profesional masa lalu saat mereka sama-sama berkarier di Danareksa Institute pada tahun 2000 silam.
Berbekal rekam jejak masa lalu tersebut, Ferry menilai Purbaya tidak layak memegang kendali atas keuangan negara.
“Dia tidak paham ekonomi sama sekali,” cetus Ferry lewat kanal YouTube pribadinya.
Menurut pandangan Ferry, posisi strategis sekelas Menteri Keuangan mutlak harus diisi oleh figur ekonom murni yang menguasai anatomi keuangan secara komprehensif, alih-alih sosok yang menurutnya hanya piawai memainkan instrumen lobi politik demi mempertahankan kekuasaan.
“Saya khawatir Purbaya memang jago melobi-lobi para petinggi supaya dia bertahan sebagai Menteri Keuangan,” tandasnya.
Menanggapi polemik pemeriksaan pajak yang menyeret nama sang pengkritik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampak santai dan mengaku sama sekali tidak mengetahui ihwal surat-surat dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang diterima oleh Ferry Latuhihin.
“Saya enggak tahu (surat) itu. Mungkin Pak Ferry melakukan kesalahan pajak. Saya enggak tahu itu. Kalau enggak berdosa ya enggak masalah harusnya,” ujar Purbaya singkat saat memberikan keterangan kepada awak media di kantornya, Jakarta, Rabu (5/8/2026).