DEMOCRAZY.ID – Wacana Pilpres 2029 mulai diwarnai berbagai kemungkinan pasangan.
Salah satu yang kini ikut mencuat adalah duet Presiden Prabowo Subianto dengan Gubernur Jakarta Pramono Anung.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai Prabowo-Pramono dapat menjadi salah satu opsi kuat bagi Gerindra dan PDI Perjuangan (PDIP) pada Pilpres 2029.
Menurut Dedi, kekuatan politik Gerindra dan PDIP dapat menjadi modal bagi keduanya jika benar-benar dipasangkan.
Ia bahkan menilai duet tersebut berpotensi menjadi pilihan yang menguntungkan bagi kedua partai.
“Prabowo dan Pramono menjadi pilihan terbaik di 2029, kekuatan yang dibangun oleh Gerindra dan PDIP memungkinkan keduanya mudah unggul dibanding yang lain,” ujar Dedi di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Kekuatan duet tersebut, menurut Dedi, bisa semakin besar apabila Gerindra dan PDIP mendapat dukungan dari PAN serta Golkar.
Ia juga melihat posisi PDIP sebagai calon pengusung wakil presiden masih memungkinkan dalam konfigurasi tersebut.
Dedi mengaitkannya dengan peta kekuatan politik dan dinamika hubungan PDIP dengan Jokowi.
“Selain karena suara PDIP potensial di bawah Gerindra, juga dengan kondisi melawan Jokowi, PDIP mungkin hanya akan menolak jika dalam koalisi ada kaitan dengan Jokowi,” katanya.
Namun, peta politik menuju 2029 masih sangat terbuka.
Dedi menyebut kemungkinan terbentuknya poros lain yang diisi Demokrat, NasDem, dan PKS.
“Lawan yang bisa mengimbangi meskipun berat adalah poros Demokrat, NasDem, PKS,” ujar Dedi.
Wacana Prabowo-Pramono juga muncul di tengah analisis mengenai arah hubungan politik Prabowo dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Peneliti senior BRIN Lili Romli sebelumnya menilai perbedaan kepentingan politik dapat memengaruhi hubungan keduanya menjelang Pilpres 2029.
Salah satu isu yang disoroti Lili adalah posisi Gibran Rakabuming Raka.
Ia menilai persaingan politik dapat terbuka apabila keinginan Jokowi agar Gibran kembali menjadi cawapres Prabowo tidak terakomodasi.
“Jika keinginan Jokowi agar tetap Gibran sebagai cawapresnya Prabowo tidak diakomodir, bisa jadi nanti keduanya akan bersaing dalam politik Pilpres,” ujar Lili.
Pandangan tersebut merupakan analisis mengenai kemungkinan dinamika politik pada Pilpres 2029.
Hingga kini, belum ada keputusan resmi yang menetapkan Prabowo dan Pramono sebagai pasangan capres-cawapres untuk kontestasi tersebut.
Begitu pula dengan konfigurasi koalisi partai politik.
Gerindra dan PDIP masih memiliki ruang untuk menentukan arah politiknya masing-masing menjelang tahapan Pemilu 2029.
Dengan demikian, duet Prabowo-Pramono saat ini masih berada dalam ranah wacana.
Namun, nama keduanya sudah mulai masuk dalam analisis mengenai berbagai kemungkinan konfigurasi politik menuju Pilpres 2029.