Krisis Kepercayaan! Media Internasional Bongkar Mengapa Investor Asing Ramai-Ramai Tinggalkan Indonesia

DEMOCRAZY.ID – Media asing Reuters menyoroti berbagai kebijakan populis Presiden Prabowo Subianto yang disebut memicu “lingkaran kehancuran” di pasar Indonesia.

Pemberitaan Reuters tersebut ditayangkan pada Senin (8/6/2026) dengan judul:

“Prabowo’s populist policies propel a ‘doom-loop’ in Indonesian markets”.

Media itu menuliskan bahwa Prabowo kehilangan kepercayaan investor dan agenda pertumbuhannya terancam gagal.

“Komandan pasukan khusus yang kini menjadi politisi itu telah memimpin pemerintahan yang kacau sejak menjabat pada tahun 2024,” tulis Reuters.

Mereka menulis, Prabowo menjanjikan makanan gratis bagi jutaan anak sekolah dan mengabaikan disiplin pengeluaran yang telah diterapkan selama puluhan tahun demi mengejar pertumbuhan.

Media asing itu juga menyoroti beberapa keputusan tidak lazim Prabowo, termasuk sentralisasi ekspor komoditas di bawah dana kedaulatan yang sangat besar dengan langsung bertanggung jawab kepada Prabowo.

Kemudian, adanya mandat baru terkait penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi bagi bank sentral.

Ditambah guncangan akibat krisis energi global, kondisi seperti itu disebut telah mengguncang kepercayaan investor.

“Langkah-langkah tersebut telah memudarkan kilau yang dulu, hanya beberapa tahun lalu, menjadi ikon pasar negara berkembang,” tulis Reuters.

“Saat ini, indikator credit default swap menunjukkan bahwa ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu akan kehilangan peringkat kredit investasi-nya,” imbuhnya.

Saham dan mata uang Indonesia yang jatuh

Lebih jauh, Reuters menyebut pasar saham Indonesia menjadi yang berkinerja terlemah di dunia pada tahun 2026, turun lebih dari 42 persen.

Media itu juga menyampaikan bahwa rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling terpukul. Nilai tukar rupiah turun sebesar delapan persen tahun ini.

Hal tersebut telah menjadi gejala maupun sumber masalah, karena penurunan nilainya mulai memicu penjualan yang semakin besar.

Indonesia dilanda krisis kepercayaan

Reuters mengutip keterangan manajer investasi untuk saham pasar berkembang di Pictet Asset Management, Tan Altundag yang menilai bahwa Indonesia dilanda krisis kepercayaan.

“Indonesia sedang dilanda krisis kepercayaan yang nyata, dengan tanda-tanda peringatan serius terkait tata kelola yang menenggelamkan segala argumen mengenai valuasi,” kata dia.

“Nilai tukar rupiah di level 18.000 per dolar AS tidak hanya mengikis imbal hasil riil bagi investor asing, pelemahan mata uang ini berisiko menjadi lingkaran setan yang memperburuk situasi, mendorong kenaikan inflasi, memperketat kondisi keuangan, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan,” sambungnya.

Altundag telah secara agresif mengurangi eksposurnya terhadap saham-saham Indonesia.

Nilai tukar tersebut terus melemah meski telah terjadi kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin pada bulan Mei dan penurunan cadangan devisa Indonesia sebesar 12 miliar dollar Amerika Serikat (AS) tahun ini.

Kebijakan itu digunakan Bank Indonesia sebagai bank sentral untuk mempertahankan nilai tukar.

“Dan kini dampaknya mulai meluas,” tulis Reuters.

Catatan penjualan saham oleh investor asing

Penjualan saham oleh investor asing, yang mencatat arus keluar bersih sebesar 3,2 miliar dollar AS hingga akhir Mei 2026. Hal itu merupakan yang terbesar sejak 2009.

Data menunjukkan kepemilikan asing atas obligasi pemerintah, yang sebelumnya mencapai hampir 40 persen sebelum pandemi Covid-19, telah anjlok ke level terendah dalam hampir 20 tahun, hanya 12,6 persen.

“Memang benar, ada lingkaran setan yang mulai terbentuk,” kata Kepala Investasi untuk Asia di Lombard Odier, John Woods.

“Arus keluar modal yang terus-menerus, dengan kepemilikan asing atas obligasi dan saham berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir, akan terus menekan nilai tukar rupiah, likuiditas, dan harga aset, arus keluar modal yang berkepanjangan dapat menghambat rencana pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan,” imbuhnya.

Peringkat kredit dan ekuitas Indonesia dipertaruhkan

Reuters menuliskan bahwa peringkat kredit dan ekuitas Indonesia juga berada di ujung tanduk.

Penurunan peringkat akan memaksa investor untuk melepas kepemilikan mereka. Dalam hal peringkat kredit, biaya pinjaman akan melonjak.

Penyedia indeks MSCI sedang meninjau masalah perdagangan dan transparansi di pasar saham dan memperingatkan bahwa status “frontier” mungkin dicabut.

Meski demikian, para investor menganggap hal tersebut tidak mungkin terjadi.

Moody’s dan Fitch telah menurunkan prospek peringkat utang mereka menjadi negatif, dengan alasan berkurangnya kredibilitas kebijakan.

Sementara itu, S&P menyatakan bahwa peringkatnya akan bergantung pada upaya untuk memperkuat bantalan fiskal.

Hal paling mengkhawatirkan pasar adalah guncangan energi yang disebabkan oleh perang AS-Israel terhadap Iran telah menambah tekanan pada perekonomian serta anggaran (akibat subsidi bahan bakar).

“Namun Prabowo justru semakin memperkuat agenda mahalnya,” tulis Reuters.

Pekan lalu, Indonesia mengesahkan undang-undang yang memberikan kewenangan baru kepada parlemen untuk mengarahkan bank sentral serta menambahkan “pertumbuhan sektor riil” ke dalam mandatnya.

Hal tersebut dipandang oleh para analis sebagai ancaman terhadap kemandirian bank sentral.

Reuters juga memberitakan Prabowo yang mencalonkan keponakannya sebagai wakil gubernur Bank Indonesia pada awal tahun ini.

Bulan lalu, Prabowo mengatakan bahwa negara akan mengambil alih ekspor komoditas melalui Danantara.

“Kekhawatiran yang mendasar adalah bahwa arah kebijakan tersebut kurang baik dan semakin tidak transparan,” kata kepala divisi utang lokal pasar negara berkembang Aberdeen, Kieran Curtis.

“Masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa kebijakan tersebut telah menimbulkan dampak negatif, tetapi kebijakan itu tidak seefektif jika ekspor dapat menemukan pasarnya sendiri,” lanjutnya.

Perlu perubahan kebijakan besar

Tekanan juga datang dari luar, berupa akibat dampak perang di Iran terhadap sektor energi dan pasar, terutama kontrak pertukaran risiko gagal bayar (credit default swaps).

Reuters menuliskan bahwa kondisi tersebut cenderung memperbesar risiko penurunan peringkat.

Para investor berpendapat bahwa diperlukan perubahan kebijakan besar-besaran untuk memicu pembalikan tren.

“Ya, negara-negara memang bisa keluar dari spiral negatif yang mereka ciptakan sendiri,” ucap Mark Ledger-Evans, manajer portofolio obligasi pasar negara berkembang yang berfokus pada Asia di Ninety One.

Menurut Ledger-Evans, pihaknya meyakini bahwa hal itu sebagian besar disebabkan oleh upaya mengejar tingkat pertumbuhan yang tidak realistis.

Kemudian, akan berdampak pada pelaksanaan kebijakan, sehingga tidak mudah untuk keluar dari siklus itu tanpa melakukan evaluasi ulang terhadap konsep-konsep yang ada.

Reuters juga menyinggung perusahaan-perusahaan China yang turut andil dalam membangun industri nikel Indonesia hingga menjadi produsen utama di dunia.

Perusahaan-perusahaan itu kini disebut sudah mulai mencari alternatif di tempat lain sebagai respons terhadap tekanan kebijakan. Para investor pun bakal menuntut harga yang lebih baik.

“Indonesia tidak lagi dipandang sebagai pasar negara berkembang yang dapat diandalkan dan konvensional, melainkan sebagai pasar yang memiliki risiko kebijakan yang semakin meningkat,” ujar Hemant Mishr, kepala investasi di perusahaan pengelola dana S CUBE Capital.

Sumber: Kompas

Artikel terkait lainnya