DEMOCRAZY.ID – Seniman sekaligus legenda musisi hip-hop Indonesia, Iwa Kusuma alias Iwa K, merilis lagu terbaru berjudul “DOAMAT”.
Lagu bernada kritis itu lahir dari akumulasi keresahan terhadap kondisi politik, hukum, dan sosial bangsa saat ini.
Hal itu disampaikan Iwa K saat menjadi bintang tamu di kanal YouTube OWRITE dan Feri Amsari dengan tajuk “Lagu Iwa K – DOAMAT Benarkah Protes Untuk Rezim Saat ini?” yang tayang pada Selasa (18/8/2026).
Iwa K menegaskan seni adalah cerminan zaman. Kegelisahan yang ia tuangkan bukan keresahan pribadi, melainkan keresahan kolektif masyarakat.
“Bahan bakarnya seniman itu kegelisahan. Bukan berarti kita suka dengan keadaan seperti ini. Kita bukan sekadar gelisah lagi, tapi sudah Jeronimo, kita enggak pernah tahu bakal mendarat di mana,” ujar Iwa K.
Ia menilai kondisi bernegara saat ini membingungkan rakyat kecil. Logika akal sehat seolah dibalik.
“Akhirnya gua kayak melihat sirkus aja gitu loh. Sudah jelas-jelas salah, masih dibilang baik. Ada yang harusnya dilindungi, malah tidak dilindungi,” cetusnya.
Salah satu lirik yang paling disorot dalam “DOAMAT” adalah frasa “Anak Haram Konstitusi”.
Bagi Iwa, istilah itu muncul dari kekecewaan terhadap tatanan hukum yang tergerus kepentingan kelompok tertentu.
“Lembaga penyelesai sengketa seperti MK yang seharusnya jadi benteng terakhir keadilan, kok bisa kayak gitu? Orang cari keadilan di sana, malah tidak adil,” ujarnya.
“Satu tembok terakhir kayak MK, kok bisa kayak gitu? Ketika badut masuk ke istana, badut itu enggak menjadi raja, tapi istananya yang jadi penuh sirkus,” selorohnya.
Iwa menekankan frasa tersebut bukan menyasar satu figur, melainkan cerminan manipulasi regulasi hasil persekongkolan oligarki.
“Korupsi kalau dulu kan transaksi di bawah meja tanpa bunyi. Tapi sekarang sudah bisa berjalan bersama regulasi. Tanpa malu-malu, telanjang aja meleng kan ada regulasinya,” tegasnya.
Alasan utama Iwa K “turun gunung” dan kembali berkarya kritik adalah kekhawatiran terhadap masa depan anak dan generasi muda.
“Bila praktik manipulasi politik dan penyimpangan hukum dibiarkan, itu akan jadi budaya. Gimana nanti angkatannya anak saya? Kasihan orang yang sudah capek-capek sekolah dan mengasah skill, tapi akhirnya kalah kalau enggak masuk circle tertentu,” paparnya.
Pakar hukum tata negara Feri Amsari yang memandu diskusi mengamini.
Ia menyebut jika pembusukan tatanan hukum dan politik dibiarkan, generasi muda sedang digiring ke kehancuran peradaban.
Meski kritiknya tajam, Iwa K menegaskan tidak berniat menyebarkan kebencian personal. Kritiknya bertumpu pada fenomena kerakyatan dan kerakusan kekuasaan.
“Saya ini warga, saya gelisah. Di tempat nongkrong manapun obrolannya ke sini. Berarti I’m not the only one. Saya punya jalan pedang lewat budaya dan seni ini. Ayo kita jalan bareng, mau posisi lo di atas atau di mana saja, please ayo bareng-bareng perbaiki,” pungkas Iwa.
Lewat “DOAMAT”, Iwa K membuktikan musik hip-hop tetap menjadi instrumen kontrol sosial yang lantang mengawal demokrasi di Indonesia.
👇👇