DEMOCRAZY.ID — Pemikir dan pengamat politik Rocky Gerung menyoroti hasil survei terbaru yang menunjukkan elektabilitas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berada di atas Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Rocky, elektabilitas Prabowo masih berpeluang besar untuk kembali meningkat apabila pemerintah melakukan perombakan kabinet (reshuffle) secara besar-besaran pada periode September hingga Oktober 2026.
Ia menilai langkah tersebut dapat menjadi respons strategis terhadap tuntutan publik, terutama jika perombakan menyasar sejumlah menteri.
“Langkah tersebut bisa menjadi respons terhadap tuntutan publik, terutama jika menyasar pergantian sejumlah menteri,” ujar Rocky.
Ia mengatakan, keputusan pemerintah untuk melakukan reshuffle yang sejalan dengan aspirasi masyarakat berpotensi memberikan dampak langsung terhadap pemulihan tingkat elektabilitas Presiden.
“Keputusan pemerintah untuk melakukan reshuffle sesuai dengan aspirasi masyarakat berpotensi memberikan dampak langsung terhadap tingkat elektabilitas Presiden,” tambahnya.
Ia memperkirakan, jika skenario tersebut benar-benar terjadi, elektabilitas Prabowo akan merangkak naik.
Pada saat yang sama, posisi elektabilitas Dedi Mulyadi dinilainya berpotensi mengalami koreksi atau menurun.
Menurut Rocky, kenaikan elektabilitas kedua tokoh tersebut secara bersamaan dalam situasi politik saat ini sulit untuk terjadi.
Sebelumnya, hasil survei yang dirilas oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) serta Indikator Politik Indonesia pada akhir Juli 2026 mencatat keunggulan Dedi Mulyadi atas Prabowo dalam sejumlah simulasi elektabilitas.
Dalam simulasi semi terbuka SMRC, Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dengan perolehan elektabilitas sebesar 35 persen, sementara Prabowo berada di posisi kedua dengan 14,5 persen.
Keunggulan tersebut semakin terlihat dalam simulasi head-to-head, di mana Dedi meraup 59 persen berbanding 28,3 persen untuk Prabowo.
Tren serupa juga terekam dalam data survei Indikator Politik Indonesia.
Dedi memimpin dalam simulasi elektabilitas meskipun dari sisi tingkat pengenalan publik (awareness), Prabowo masih unggul dengan angka 98,8 persen berbanding 88,2 persen milik Dedi.
Kendati demikian, dari sisi tingkat kesukaan (likability), Dedi Mulyadi mencatatkan angka 88,3 persen, jauh di atas Prabowo yang berada di kisaran 68,1 persen.
“Dedi memimpin dalam simulasi elektabilitas meskipun tingkat pengenalan publik terhadap Prabowo lebih tinggi,” catat hasil riset tersebut.
Temuan dan dinamika inilah yang menjadi dasar analisis Rocky Gerung dalam melihat peta kekuatan politik ke depan, sekaligus menakar sejauh mana langkah taktis seperti reshuffle kabinet dapat mengubah arah dukungan publik.