Desak Refleksi Total! Prabowo Diingatkan Soal Ancaman Negara Bisa Bubar, Singgung Uni Soviet hingga Yugoslavia

DEMOCRAZY.IDPengamat kebijakan publik Muhammad Said Didu mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar berhati-hati dalam mengambil kebijakan negara.

Menurutnya, sejarah mencatat sejumlah negara mengalami kehancuran akibat keputusan pemimpinnya, sehingga Indonesia harus belajar dari pengalaman tersebut.

Melalui unggahan di akun X pribadinya yang dikutip pada Minggu (2/8/2026), Said Didu membandingkan sejumlah negara yang mengalami perubahan besar akibat kepemimpinan nasional.

Ia menyinggung bubarnya Uni Soviet pada 1991 di bawah kepemimpinan Mikhail Gorbachev, serta Yugoslavia yang terpecah pada awal 1990-an.

Selain itu, ia juga mengaitkan dinamika geopolitik global dengan kebijakan para pemimpin dunia saat ini.

“Amerika Serikat dan dan Israel “masuk” kuburan. 2026 karena sikap Trump dan Netanyahu yang sok jagoan akan “mengubur AS dan Israel serta keseimbangan baru dunia akan terjadi,” tulis Said Didu.

Said Didu juga menyoroti perkembangan China dan Rusia yang menurutnya semakin kuat karena mampu menegakkan hukum dan menertibkan pengaruh oligarki.

Berdasarkan perbandingan tersebut, ia menilai masa depan sebuah negara sangat ditentukan oleh sikap pemimpinnya dalam mengambil keputusan strategis.

“Indonesia akan bernasib seperti apa?” ujarnya.

Menurut Said Didu, masa depan Indonesia kini berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.

Ia menegaskan, arah perjalanan bangsa tidak ditentukan oleh pidato, melainkan melalui kebijakan yang cepat, tepat, dan berpihak pada kepentingan negara.

Pernyataan tersebut muncul di tengah beredarnya isu mengenai rencana demonstrasi besar pada Agustus 2026 yang disebut dipicu oleh ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap berbagai persoalan nasional.

Menanggapi isu tersebut, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto memastikan hingga saat ini pihaknya belum menerima informasi resmi mengenai rencana aksi demonstrasi berskala besar.

Meski demikian, kepolisian tetap melakukan langkah antisipasi dengan memantau perkembangan situasi melalui media sosial serta berkoordinasi dengan unsur intelijen guna menjaga stabilitas keamanan.

“Kami juga akan berkoordinasi dari analisa perkiraan intelijen terkait tentang situasi terkini. Tetapi perlu kami sampaikan bahwa situasi sampai saat ini masih bisa dapat dikendalikan,” jelas Budi dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (31/7/2026).

Hingga kini belum ada keterangan resmi dari Presiden Prabowo Subianto maupun pihak Istana terkait pernyataan Said Didu tersebut.

Artikel terkait lainnya