Retak di Lingkar Istana? Pengamat Great Institute Bongkar Gelagat Gibran Mulai ‘Berani’ Melawan Prabowo

DEMOCRAZY.ID — Geliat pertarungan faksi di lingkar utama kekuasaan kian blak-blakan disorot.

Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, secara terbuka menilai bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat ini sudah mengambil posisi berhadap-hadapan atau melawan Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan tajam tersebut dilontarkan Syahganda ketika menganalisis potensi gesekan politik antara kepala negara dan wakilnya menuju kontestasi Pilpres 2029 mendatang.

“Menurut saya, Gibran sudah melawan Prabowo sekarang,” ungkap Syahganda, dikutip dari kanal YouTube Hendri Satrio, Selasa (8/9/2026).

Dugaan Manuver Lapangan dan Bayang-Bayang Jokowi

Sebagai landasan argumennya, Syahganda menyoroti pola pergerakan Gibran saat melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah, salah satunya ke tanah Papua.

Manuver tersebut dibacanya sebagai upaya sadar untuk merangkul simpul-simpul masyarakat yang selama ini menyimpan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah pusat.

Langkah sang wakil presiden itu dinilai berjalan paralel dengan masifnya frekuensi blusukan yang dilakukan oleh sang ayah, Joko Widodo, ke berbagai wilayah.

Kombinasi pergerakan ini diinterpretasikan sebagai strategi unjuk kekuatan di luar kendali poros Istana utama.

“Dia berusaha [mendekati] masyarakat yang kurang puas terhadap pemerintah. Gibran mencoba mengimbangi, ditambah Jokowi yang ke daerah-daerah,” ulasnya.

Usulan Radikal: Melengserkan Wapres demi Stabilitas

Melihat eskalasi ketegangan yang dinilai sudah masuk pada fase membahayakan stabilitas eksekutif, Syahganda bahkan melontarkan usulan radikal agar Presiden Prabowo mengambil langkah politik yang tegas untuk menyingkirkan Gibran dari struktur kekuasaan melalui mekanisme konstitusional di MPR.

Ia beralasan, figur Prabowo yang memiliki basis karisma kuat dinilai sudah lebih dari cukup untuk memimpin pemerintahan seorang diri tanpa harus tersandera oleh beban politik wakilnya.

“Usul saya, disingkirkan saja. Tanpa wakil presiden saja. Presiden RI yang sekarang, karakternya juga karismatik,” tutur Syahganda.

Lebih jauh, ia berandai-andai bahwa pembersihan faksi tersebut akan membuka ruang bagi kubu Jokowi untuk bertarung secara terbuka dan fair pada Pemilu 2029.

Berdasarkan kalkulasi elektoralnya, tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Prabowo sejatinya bisa meroket lebih tinggi apabila tidak terseret beban sentimen negatif dari figur sang wakil presiden.

“Gibran ini yang membuat hancur. Kalau Gibran tidak ada, Prabowo Subianto mungkin 74 persen. Usul saya jelas, Gibran disingkirkan,” pungkasnya.

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya