Beda Jauh Sama SBY dan Megawati, Jokowi Disebut Sangat ‘Ambisius’ Dirikan Kerajaan Dinasti Politik

DEMOCRAZY.ID — Kritisisme terhadap peta jalan politik keluarga Joko Widodo kembali disuarakan oleh kalangan pengamat.

Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, menyoroti gelagat politik Jokowi yang dinilai sangat kontras jika dibandingkan dengan para mantan presiden pendahulunya, seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Megawati Soekarnoputri, B.J. Habibie, hingga Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Jika para pendahulu cenderung memilih langkah surut dari panggung kekuasaan secara natural setelah lengser, Jokowi justru dikritik masih terus berupaya menjaga panggung dan porsa politiknya di ruang publik.

Syahganda menilai, langgam politik tersebut didorong oleh ambisi besar sang mantan presiden untuk merajut kekuasaan trah keluarga dalam bentuk dinasti politik yang mapan.

“Jokowi terperangkap pada ambisi untuk membuat kerajaan di dalam dinastinya. Gibran dan Kaesang sudah dilengkapi dengan logistik yang tinggi,” ujar Syahganda dalam perbincangan di kanal YouTube Hendri Satrio, Selasa (8/9/2026).

Kontras Kapasitas Kaderisasi Trah Politik

Sebagai catatan, laju politik anak-anak kandung Jokowi memang melesat dalam waktu singkat.

Gibran Rakabuming Raka dipromosikan langsung menduduki kursi Wali Kota Surakarta sebelum melenggang ke Istana sebagai Wakil Presiden, sementara Kaesang Pangarep secara kilat dinobatkan memimpin partai politik nasional.

Kendati demikian, Syahganda melontarkan kritik pedas terkait aspek kapasitas kepemimpinan (capacity building) dari anak-anak kandung Jokowi tersebut.

Dengan bekal logistik finansial yang melimpah, ia menilai secara substansial mereka masih tertinggal dari segi kematangan tata kelola pemerintahan.

“Logistiknya sudah siap, tetapi mereka under capacity [kemampuan di bawah batas normal],” tutur Syahganda.

Ia lantas membandingkannya dengan proses pengkaderan trah tokoh nasional lain di masa lalu.

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra sulung SBY, ditempa melalui rekam jejak panjang militer hingga menyandang pangkat Mayor, serta merampungkan pendidikan doktoral di Universitas Airlangga setelah studi di Universitas Harvard.

Begitu pula dengan putri Megawati, Puan Maharani, yang menjalani proses kaderisasi kepartaian dan legislatif di bawah didikan langsung Taufiq Kiemas selama dua dekade penuh.

Bagi Syahganda, tokoh-tokoh dari trah terdahulu telah melalui gemblengan yang matang sehingga dinilai sudah siap “lepas landas” secara mandiri di kancah politik nasional.

Ketakutan Politik dan Jebakan Dinasti

Kondisi yang jauh berbeda justru terlihat di kubu Jokowi.

Syahganda berpandangan bahwa Jokowi dihantui oleh kecemasan mendalam bahwa anak-anaknya akan mengalami “kematian politik” di tengah jalan apabila dilepas mandiri tanpa pengawalan langsung dari figur sang ayah.

Ketakutan inilah yang memaksa Jokowi untuk terus cawe-cawe dan turun gunung demi menjaga kelangsungan kuasa politik keluarganya, yang pada akhirnya justru membuat sang mantan presiden terjebak dalam ambisinya sendiri.

“Jadi, dia [Jokowi] harus turun untuk menjaga itu. Kondisi ini yang membuatnya terperangkap,” pungkasnya.

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya