DEMOCRAZY.ID – Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa menyarankan Anies Baswedan mempertimbangkan tawaran menjadi menteri di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto apabila kesempatan tersebut benar-benar datang.
Menurut dia, pengabdian kepada bangsa tidak harus ditempuh melalui jabatan presiden.
Pandangan itu disampaikan Tifauzia melalui akun X pribadinya, Senin, 12 Oktober 2026.
Ia menyatakan sependapat dengan gagasan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Syahganda Nainggolan yang menyarankan Anies menerima tawaran masuk kabinet Prabowo jika memang ada.
Syahganda, menurut Tifauzia, bahkan menyebut posisi Menteri Pendidikan sebagai salah satu jabatan yang dinilai cocok bagi mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.
Meski demikian, terdakwa kasus ijazah Jokowi ini menegaskan bahwa wacana itu tidak serta-merta menunjukkan adanya tawaran resmi dari Prabowo kepada Anies.
Tifauzia mengajak Anies melihat pengalaman politik Prabowo yang pernah menjadi rival Joko Widodo dalam pemilihan presiden, tetapi kemudian bergabung ke pemerintahan sebagai Menteri Pertahanan pada 2019.
Bagi Tifauzia, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seseorang tidak harus menjadi presiden terlebih dahulu untuk berkontribusi bagi negara.
“Pengabdian kepada bangsa tidak semestinya berhenti hanya karena seseorang belum berhasil menjadi presiden,” tulisnya.
Tifauzia menilai Anies masih memiliki modal untuk berkontribusi dalam kehidupan publik, mulai dari pengalaman memimpin Jakarta, latar belakang akademik, hingga kepercayaan masyarakat yang pernah diperolehnya.
Namun, ia mengaku masih menantikan gagasan dan kiprah konkret Anies setelah kalah dalam Pilpres 2024.
Menurut Tifauzia, tokoh politik dengan kapasitas dan pengaruh seperti Anies semestinya dapat menerjemahkan gagasannya menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Ia mengingatkan agar energi politik tidak hanya dihabiskan untuk menunggu kesempatan kembali bertarung dalam pemilihan presiden berikutnya.
“Jangan sampai energi politik habis untuk menunggu momentum Pilpres berikutnya,” tulisnya.
Tifauzia menilai sektor pendidikan dapat menjadi salah satu ruang pengabdian yang strategis bagi Anies.
Sebab, pendidikan merupakan fondasi pembangunan sumber daya manusia dan masa depan Indonesia.
Jika kesempatan menjadi menteri benar-benar tersedia, menurut dia, jabatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki persoalan di sektor yang dipimpin.
Tifauzia juga menekankan bahwa keputusan bergabung ke pemerintahan tidak harus membuat seorang tokoh kehilangan independensi maupun sikap kritis.
Menurut dia, tokoh yang memiliki gagasan berbeda tetap dapat memberikan perspektif baru dari dalam pemerintahan, selama menjaga integritas dan prinsip yang diyakininya.
Menurutnya, menerima jabatan menteri tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai persoalan kompromi politik.
Jabatan tersebut juga dapat menjadi sarana untuk menerapkan gagasan dan menghasilkan kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Di sisi lain, Tifauzia mengingatkan bahwa Anies tetap memiliki banyak pilihan apabila tidak ada tawaran jabatan dari Prabowo.
Ia menyebut sejumlah alternatif, seperti membangun pusat pemikiran, mengembangkan gagasan pendidikan, menggerakkan masyarakat, membina generasi muda, hingga menawarkan solusi konkret terhadap persoalan bangsa.
Bagi Tifauzia, kontribusi seorang tokoh tidak seharusnya bergantung pada posisi formal yang dipegangnya.
Ia menilai Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar nama besar dan popularitas politik.
Gagasan, menurut dia, harus diwujudkan dalam tindakan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
“Menjadi presiden adalah satu jalan pengabdian. Menjadi menteri adalah jalan yang lain. Di luar keduanya, masih ada begitu banyak ruang untuk membuat perubahan,” tulisnya.
Tifauzia pun menutup tulisannya dengan pesan bahwa kekalahan dalam kontestasi politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan pengabdian.
Menurut dia, sejarah tidak hanya mencatat tokoh yang pernah berpeluang menjadi presiden, tetapi juga mereka yang bekerja dan memberikan manfaat bagi rakyat.
SAYA SARANKAN ANIES TERIMA TAWARAN PRABOWO JIKA MEMANG ADA!
Saya sependapat dengan gagasan Syahganda Nainggolan yang menyarankan Anies Baswedan menerima tawaran menjadi menteri apabila Presiden Prabowo Subianto benar-benar menawarkannya.Syahganda bahkan menyebut posisi Menteri Pendidikan sebagai salah satu pilihan yang cocok bagi Anies. Namun, sampai saat ini, wacana tersebut belum berarti sudah ada tawaran resmi dari Prabowo.
Bagi saya, ada pelajaran penting dari sejarah politik Indonesia.
Prabowo Subianto pernah menjadi rival politik Jokowi, tetapi akhirnya bersedia masuk ke dalam pemerintahan sebagai Menteri Pertahanan. Prabowo tidak harus menjadi presiden terlebih dahulu untuk ikut bekerja bagi negara.
Baca JugaMengapa Anies tidak bisa mengambil pelajaran serupa?
Pilpres 2024 sudah berlalu. Anies kalah dalam kontestasi tersebut. Saya memahami bahwa seorang tokoh politik tentu memiliki cita-cita dan agenda besar untuk bangsanya. Tetapi pengabdian kepada bangsa tidak semestinya berhenti hanya karena seseorang belum berhasil menjadi presiden.
Sudah lebih dari dua tahun sejak Pilpres Februari 2024. Saya menunggu kiprah Anies, menunggu gagasan besar yang diwujudkan menjadi gerakan nyata, menunggu gebrakan yang dampaknya bisa dirasakan masyarakat luas.
Dengan nama besar, pengalaman sebagai Gubernur DKI Jakarta, latar belakang akademik, dan modal kepercayaan publik yang dimilikinya, Anies semestinya dapat terus berkarya melalui berbagai jalan.
Baca JugaJangan sampai energi politik habis untuk menunggu momentum Pilpres berikutnya.
Jika kesempatan menjadi menteri benar-benar datang, mengapa tidak dimanfaatkan untuk membenahi satu sektor penting dalam kehidupan bangsa? Pendidikan, misalnya, merupakan fondasi masa depan Indonesia. Ada begitu banyak persoalan yang membutuhkan pemikiran, keberanian, dan kerja nyata.
Tentu saja, menerima jabatan bukan berarti harus kehilangan sikap kritis. Bergabung ke pemerintahan tidak berarti harus membenarkan semua kebijakan. Justru seorang tokoh yang memiliki gagasan berbeda dapat memberikan perspektif baru dari dalam pemerintahan, sepanjang ia tetap berpegang pada integritas dan prinsipnya.
Dan jika akhirnya tidak ada tawaran menjadi menteri, Anies tetap mempunyai ruang luas untuk berkarya: membangun pusat pemikiran, mengembangkan gagasan pendidikan, menggerakkan masyarakat, membina generasi muda, dan menawarkan solusi konkret bagi persoalan bangsa.
Baca JugaSebab, yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar nama besar yang terus dipelihara, melainkan pemikiran yang diwujudkan menjadi tindakan.
Anies, bangsa ini tidak bisa terus menunggu.
Menjadi presiden adalah satu jalan pengabdian. Menjadi menteri adalah jalan yang lain. Di luar keduanya, masih ada begitu banyak ruang untuk membuat perubahan.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah hampir menjadi presiden. Sejarah juga mencatat siapa yang benar-benar bekerja dan memberikan manfaat bagi rakyat.
Jabatan boleh berganti. Kontestasi boleh dimenangkan atau dikalahkan. Tetapi pengabdian kepada bangsa tidak boleh berhenti.
Jakarta, 12 Oktober 2026
Tifauzia Tyassuma— Dokter Tifa (@DokterTifa) October 12, 2026
Sebelumnya kolega dekat Anies, Geisz Khalifa mengungkapkan bahwa Anies sejak awal telah dihubungi untuk mengisi posisi Menteri Luar Negeri dan ia justru mendorong mantan Gubernur DKI Jakarta itu menolak tawaran tersebut.
“Anies sejak awal sudah dihubungi untuk menjadi Menteri Luar Negeri. Gue justru mendorong dia untuk menolak,” tulis Geisz melalui akun media sosialnya, sebagaimana dikutip dari pemberitaan pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Geisz juga mengingatkan Anies agar tidak menjadi pragmatis.
Ia menegaskan, pernyataannya bukan sekadar spekulasi tentang siapa yang menawarkan jabatan kepada Anies, melainkan berdasarkan informasi yang ia ketahui.
“Jangan jadi kaum pragmatis,” tegasnya.