DEMOCRAZY.ID – Wacana Anies Baswedan masuk kabinet Presiden Prabowo Subianto mendapat tanggapan berbeda dari dua tokoh politik.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Syahganda Nainggolan mendorong Anies menjadi Menteri Pendidikan.
Sebaliknya, Geisz Khalifa mengungkapkan bahwa Anies sejak awal telah dihubungi untuk mengisi posisi Menteri Luar Negeri dan ia justru mendorong mantan Gubernur DKI Jakarta itu menolak tawaran tersebut.
Pernyataan Geisz itu muncul sebagai respons atas dorongan Syahganda agar Anies tidak ragu bergabung dengan pemerintahan Prabowo.
Perbedaan pandangan keduanya memperlihatkan bahwa persoalan masuknya Anies ke kabinet bukan semata soal kecocokan jabatan, melainkan juga sikap politik terhadap kekuasaan.
“Anies sejak awal sudah dihubungi untuk menjadi Menteri Luar Negeri. Gue justru mendorong dia untuk menolak,” tulis Geisz melalui akun media sosialnya, sebagaimana dikutip dari pemberitaan pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Geisz juga mengingatkan Anies agar tidak menjadi pragmatis.
Ia menegaskan, pernyataannya bukan sekadar spekulasi tentang siapa yang menawarkan jabatan kepada Anies, melainkan berdasarkan informasi yang ia ketahui.
“Jangan jadi kaum pragmatis,” tulisnya.
Geisz kemudian merespons komentar sejumlah pihak yang mempertanyakan klaim mengenai tawaran jabatan Menteri Luar Negeri kepada Anies.
Ia menyebut keterangannya merujuk pada fakta yang diketahuinya, termasuk konteks pertemuan yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
“Gue cuma lagi menjawab pernyataan Syahganda dengan fakta yang gue ketahui. Bertemu dengan siapa bertemunya di mana. Bukan membuat pernyataan tanpa konteks. Itupun sudah lama,” sebut Geisz dalam keterangannya di Instagram, Senin (12/10/2026).
Ia juga melontarkan sindiran kepada pihak-pihak yang mempertanyakan siapa pemberi tawaran tersebut.
Dalam unggahannya, Geisz meminta para pengkritik membicarakan persoalan itu di kalangan mereka sendiri.
Meski demikian, pernyataan Geisz belum dengan sendirinya membuktikan adanya tawaran resmi dari Istana.
Belum ada keterangan terbuka mengenai siapa pihak yang menghubungi Anies, kapan komunikasi itu berlangsung, ataupun apakah tawaran tersebut disampaikan secara formal.
Baca JugaView this post on Instagram
Sebelumnya, Syahganda secara terbuka mendorong Anies untuk mengisi posisi Menteri Pendidikan di pemerintahan Prabowo.
Ia menilai mantan Gubernur DKI Jakarta itu memiliki kapasitas yang sesuai untuk membantu pemerintah menangani persoalan pendidikan nasional.
“Saya mendorong dia (Anies) untuk jadi Menteri Pendidikan. Cocok, Anies cocok,” ujar Syahganda dalam siniar Total Politik yang ditayangkan di YouTube.
Pernyataan itu disampaikan sebelum Syahganda dilantik sebagai Kepala Bakom RI pada 2 Oktober 2026.
Ia meminta Anies mengesampingkan ego dan gengsi politik demi kepentingan bangsa.
Syahganda bahkan mengingatkan hubungan politik Anies dan Prabowo pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
Saat itu, Prabowo mendukung Anies yang berpasangan dengan Sandiaga Uno untuk menghadapi Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat.
“Tidak usah malu-malu. Pasti ada ego dan gengsi, tapi salah dong kalau gengsi. Bagaimanapun, yang membesarkan dia (Anies) kan Prabowo juga,” kata Syahganda.
Ia juga mencontohkan keputusan Prabowo bergabung dalam kabinet Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pertahanan pada 2019.
Menurut Syahganda, langkah tersebut menjadi contoh bahwa rivalitas politik tidak harus menutup ruang kerja sama dalam pemerintahan.
Syahganda tidak hanya menyebut Anies.
Ia juga menilai tokoh di luar lingkaran pemerintahan, seperti Mahfud MD dan Ganjar Pranowo, layak dipertimbangkan untuk membantu pemerintah.
Ia mengkritik prinsip the winner takes all atau anggapan bahwa pihak yang menang dalam kontestasi politik berhak menguasai seluruh ruang kekuasaan.
Menurut Syahganda, pemerintahan membutuhkan sumber daya manusia yang memadai untuk menjalankan berbagai agenda negara.
Karena itu, kemampuan dan pengalaman seseorang semestinya menjadi pertimbangan, bukan semata-mata kedekatan politik atau posisi dalam pemilihan presiden.
“Jangan selalu bicara the winner takes all, merasa paling berkeringat lalu yang lain tidak,” ujarnya.
Ia menambahkan, besarnya struktur kabinet membuat pemerintah membutuhkan lebih banyak figur yang memiliki kapasitas untuk membantu presiden.
Perbedaan pandangan Syahganda dan Geisz kini menempatkan wacana Anies masuk kabinet dalam dua sudut pandang.
Syahganda menekankan rekonsiliasi dan pengabdian melalui pemerintahan, sedangkan Geisz mengingatkan agar keputusan politik tidak terjebak dalam pragmatisme.
Namun, hingga kini, pernyataan kedua tokoh tersebut belum menjadi pengumuman resmi mengenai rencana pengangkatan Anies sebagai menteri.
Keputusan mengenai susunan kabinet tetap berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.