Aksi Jalan Sore Emak-Emak Jogja Sambil Pukul Panci: Stop MBG, Negara Jangan Budek!

DEMOCRAZY.ID – Suara panci kembali menggema di jalanan Yogyakarta, Selasa (8/9/2026) sore.

Aksi bertajuk ‘Jalan Sore Pukul Panci’ digelar Suara Ibu Indonesia (SII) Yogyakarta bersama mahasiswa dan warga untuk memperingati satu tahun aksi mereka menyoroti kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Aksi dimulai dari Tugu Yogyakarta dan berakhir di Bundaran UGM.

Massa sempat berhenti di sejumlah titik untuk menyampaikan tuntutan, termasuk di kawasan Jetis yang menjadi lokasi pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Kalis Mardiasih dari Suara Ibu Indonesia Yogyakarta mengatakan aksi tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan keracunan MBG belum selesai setelah satu tahun berlalu.

Ia menyebut aksi pertama SII Yogyakarta digelar untuk merespons kejadian keracunan massal MBG di Bandung Barat dan sejumlah daerah lain yang saat itu berdampak pada hampir 6.000 pelajar.

“Tetapi setelah 1 tahun, di hari ini data dari JPPI korban keracunan massal MBG ini sudah mencapai 43.000 korban pelajar, anak-anak, dan juga ibu hamil,” kata Kalis ditemui awak media, Selasa (8/9/2026).

Menurut Kalis, angka tersebut menunjukkan persoalan MBG bukan lagi sekadar kasus insidental.

Rangkaian kejadian keracunan seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi desain dan pelaksanaan program tersebut.

“Ini adalah alarm bahwa negara ternyata tidak pernah berpihak kepada anak, negara ternyata tidak pernah mendengarkan kata-kata ilmuwan, negara ternyata tidak pernah mendengarkan keresahan orang tua, keresahan para ibu yang memberangkatkan anaknya ke sekolah dan kemudian anaknya pulang dalam kondisi tidak sehat, dalam kondisi keracunan dan mengganggu pembelajaran,” tegasnya.

Desak MBG Dihentikan, Anggaran DialihkanKalis mengatakan tuntutan dalam aksi kali ini masih sama dengan perjuangan mereka sejak setahun lalu.

Massa mendesak penghentian MBG.

“Dan tuntutan kita juga masih sama: stop MBG! Rombak desain tata kelola yang sentralistik dan bernuansa militeristik dan tidak berpihak kepada anak,” tegasnya.

Sekaligus meminta pemerintah untuk menggeser anggaran MBG kepada penanganan berbagai bencana alam yang melanda.

“Kita tahu karena program-program yang dianggap lebih prioritas dan ternyata justru berdampak keracunan massal, justru mereka meregang nyawa karena tidak diurus oleh negara, karena ada pemangkasan besar-besaran atas anggaran penanganan bencana,” ujarnya.

MBG Berdampak ke PendidikanAksi tersebut turut diikuti mahasiswa.

Kiera, salah seorang mahasiswi, mengatakan keterlibatannya berangkat dari kekhawatiran terhadap masa depan anak-anak dan kondisi negara yang semakin bermasalah.

“Motivasi pertama saya karena saya perempuan, terus saya ngerasa bahwa saya akan menjadi seorang calon ibu dan saya enggak ingin anak saya ngerasain kebobrokannya negara yang sekarang dialami oleh rakyat,” kata Kiera.

Ia mengaku melihat persoalan MBG tidak hanya berkaitan dengan makanan bergizi, tetapi juga dengan prioritas anggaran negara.

Sebagai mahasiswa, ia merasakan dampak kebijakan anggaran melalui kenaikan biaya pendidikan dan pemangkasan sejumlah program beasiswa.

Kiera menyinggung perubahan kebijakan Beasiswa Unggulan yang semakin menyulitkan mahasiswa.

Menurutnya, persoalan anggaran pendidikan semakin terasa di tengah keberlanjutan program MBG.

Ia mencontohkan penghargaan bagi peraih Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang disebut mengalami pemotongan nilai.

“Sangat berdampak (ke pendidikan). Ini salah satunya adalah hadiah lomba OSN kemarin dipotong dari yang belasan juta jadi cuma 4 juta,” ujarnya.

Setahun Berlalu, Pemerintah Dinilai Tak BergemingPeserta aksi sekaligus ibu lainnya, Anggie, mengatakan dirinya memang berniat mengikuti long march sejak titik awal di Tugu Yogyakarta.

Sebelum kemudian bergerak ke utara, berhenti di perempatan Jetis untuk menyampaikan isu di depan SPPG, sebelum melanjutkan perjalanan menuju kawasan Mirota Kampus dan Bundaran UGM.

Anggie mengaku telah mengikuti aksi serupa sejak pertama kali digelar.

Bahkan ketika aksi pertama berlangsung, ia tengah mengandung delapan bulan.

“Soalnya pemerintah budek banget. Dari tahun lalu, bahkan tahun lalu itu aku lagi hamil. Jadi, hamil 8 bulan dan MBG banyak banget kasus keracunannya,” tegas Anggie.

Menurut Anggie, satu tahun terakhir justru memperlihatkan persoalan yang semakin luas.

Selain kasus keracunan MBG, ia menyoroti bencana di Sumatera, Flores, Kalimantan, dan sejumlah daerah lain yang justru tak mendapat perhatian maksimal.

“Satu tahun setelah ini kita lihat banyak bencana, itu enggak pernah di-address issuenya dengan maksimal, tapi MBG tetap lanjut,” ujarnya.

Ia mempertanyakan keberlanjutan program tersebut ketika sejumlah daerah masih menghadapi bencana.

Menurutnya, pemerintah seharusnya mampu menimbang kembali prioritas penggunaan anggaran berdasarkan kebutuhan masyarakat yang paling mendesak.

“Padahal satu hari pendanaan MBG itu bisa menyelesaikan masalah bencana satu aja, misalkan contohnya di Sumatra atau di Flores atau di Kalimantan,” ungkapnya.

Tetap Turun Jalan meski “Hopeless”Anggie mengakui aksi berulang selama satu tahun membuat sebagian peserta berada pada titik kelelahan dan kehilangan harapan.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat mereka memilih diam.

Ia mengatakan berbagai kelompok masyarakat dan akademisi telah menyampaikan kritik berbasis fakta, tetapi kebijakan pemerintah dinilai tetap berjalan seperti sebelumnya.

Maka dari itu, aksi jalan kaki dan pukul panci menjadi cara untuk mempertahankan suara kritik di ruang publik.

“Sebenarnya kalau dipikir-pikir, kita mungkin sudah di tahap hopeless ya kalau mau dibilang tapi kita kemudian teringat lagi, kalau kita hopeless enggak ada yang menyuarakan, masa kita mau membiarkan Indonesia yang sudah kita bangun bersama dengan susah payah, hancur begitu saja hanya untuk kesenangan para oknum gitu, para elitis,” ujar Anggie.

Aksi sore itu akhirnya ditutup di Bundaran UGM.

Bagi para peserta, berjalan sambil membawa panci bukan sekadar simbol protes, tetapi cara untuk kembali mengingatkan pemerintah bahwa di balik angka korban keracunan dan angka anggaran terdapat anak-anak, orang tua, mahasiswa, serta warga yang menuntut keselamatan dan kehidupan mereka diprioritaskan.

“Jadi di tengah-tengah hopeless inilah makanya kita berpikir ya sudah lah kita jalan kaki sambil sehat. Kalaupun enggak didengar at least tubuh kita ikut sehat deh gitu. Tapi kita akan terus menyuarakan sampai ini benar-benar didengar,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya