DEMOCRAZY.ID — Tudingan panik mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang menuduh adanya “operasi intelijen” di balik terbongkarnya skandal ijazah bodong Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka langsung dilibas kritikan menyengat!
Aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Islah Bahrawi, menyindir keras kelakuan Jokowi yang kembali memamerkan jurus lamanya untuk mengelak dari dosa politik perusakan konstitusi demi sang anak.
Islah menilai narasi “operasi intelijen” yang dilempar Jokowi dari Solo tak lebih dari sekadar propaganda murahan untuk mengalihkan perhatian publik dari borok utama: Cacat prosedur pencalonan Gibran sejak awal Pilpres 2024!
Islah menuding Jokowi konsisten menggunakan pola manipulasi opini publik dengan melempar tuduhan ke pihak lain setiap kali terdesak oleh fakta hukum.
Publik sudah tidak membalas lagi narasi seolah-olah menjadi korban (playing victim) yang terus-menerus diulang dari Istana Solo.
“Modus tipu-tipunya gak pernah berubah!” tegas Islah Bahrawi melontarkan kritik pedasnya, Senin (19/10/2026).
Bagi Islah, kehebohan kasus ijazah fiktif Gibran hari ini tidak bisa dilepaskan dari benih kejahatan demokrasi yang ditanam Jokowi pada akhir 2023 lalu melalui skandal pembegalan Mahkamah Konstitusi.
Islah mengingatkan bahwa rekam jejak haram pencalonan Gibran dimulai dari Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023.
Saat itu, sang paman—Anwar Usman—nekat melakukan pelanggaran etik berat demi membentangkan karpet merah bagi keponakannya yang belum cukup umur untuk maju sebagai cawapres.
Kini, ketika Mahkamah Konstitusi dalam perkara Putusan No.
01/PHPU.PRES-XXIV/2026 secara resmi menyatakan tidak menemukan bukti ijazah SMA/SLTA yang sah milik Gibran, Jokowi justru berteriak kencang menuding ada operasi intelijen musuh.
Pernyataan Islah Bahrawi mempertegas kekecewaan mendalam warga Nahdliyin dan elemen masyarakat sipil terhadap kepemimpinan Jokowi yang rela mengorbankan etika bernegara demi syahwat politik dinasti.
Gebrakan tuduhan “operasi intelijen” dari mulut Jokowi sama sekali tidak mampu menghapus fakta bahwa reputasi Gibran hancur karena perbuatannya sendiri.
Drama telah usai, dan rakyat tak sudi lagi tertipu oleh dongeng kepalsuan dari Solo!