Jokowi Sesumbar PSI Jadi ‘Ancaman’, Pengamat: Tanda Pecah Kongsi dengan Prabowo

DEMOCRAZY.ID – Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti, menafsir pernyataan eks Presiden Jokowi yang mengklaim PSI mulai membuat pihak lain ‘ketakutan’ sebagi sinyalemen ‘pecah kongsi’ dengan lawan-lawan politiknya, termasuk Prabowo Subianto.

Jokowi, saat Rapat Koordinasi Daerah Partai Solidaritas Indonesia Kota Bandung, Sabtu (26/9) akhir pekan lalu, sesumbar partainya sudah mulai diperhitungkan di kancah politik nasional meski tergolong baru.

“Walau PSI partai baru, sekarang sudah banyak yang ketakutan,” klaim Jokowi.

Karenanya, Jokowi meminta kader PSI tak berkecil hati karena partainya akan menjadi organisasi besar di masa depan.

Namun, Ray Rangkuti menilai pernyataan tersebut terkait erat dengan hubungan politik Jokowi dan Prabowo Subianto yang kini menjadi presiden sekaligus pucuk pimpinan Partai Gerindra.

“Kalau dilihat dari sudut pandang lain, bisa dikatakan pernyataan itu adalah deklarasi kecil-kecilan Jokowi yang menyatakan siap berpisah dengan Pak Prabowo,” kata Ray Rangkuti, dikutip dari acara Kompas TV, Senin (28/9/2026).

Penyataan Jokowi itu harus dibaca dalam lanskap politik yang lebih lebar, kata Ray.

Termasuk menuver-manuver pengikut Jokowi seperti pernyataan Budi Arie Setiadi soal wacana percepatan pemilu.

Menurutnya, kesemua manuver politik itu adalah sinyalemen retaknya hubungan Jokowi dengan Prabowo, yang akan benar-benar ‘pecah kongsi’ pada Pemilu 2029.

“Kalau ditafsirkan apakah (pernyataan Jokowi) itu mengarah individu atau parpol, ya kalau konteksnya individu, itu ke Pak Prabowo,” kata Ray.

Incar Suara Partai Menengah?

Lebih lanjut, Ray Rangkuti juga menafsirkan pernyataan lain Jokowi dalam kesempatan itu, yakni terkait ambang batas parlemen.

Jokowi, pada momen yang sama, juga menegaskan PSI tak mempersoalkan bila ambang batas parlemen nantinya akan naik bahkan hingga 8 persen.

Menurutnya, Jokowi yang menekankan angka 8 persen sebagai ambang batas parlemen itu dimaksudkan bahwa PSI sedang menarget kantong-kantong suara yang kekinian dikuasai partai-partai menengah.

“Kalau disebut 8 persen ditarget, itu artinya PAN, Partai Demokrat, PKS, PKB bisa diambil (ceruk pemilihnya),” kata Ray.

Ray menilai, partai dengan basis suara besar seperti PDIP kemungkinan besar tidak akan terpengaruh dengan manuver ini, karena elektabilitas mereka yang sudah stabil di atas 15 persen.

Tapi sebaliknya, partai-partai dengan perolehan suara menengah pada Pemilu 2024 harus mewaspadai gerak-gerik PSI yang mendapat dukungan Jokowi.

“Jadi, target kata ‘hati-hati’ Jokowi itu kalau diarahkan ke individu adalah Prabowo, sebab Gibran bisa maju sendiri. Lalu kalau diarahkan ke partai, maka itu artinya ke PAN, Demokrat, atau PKB,” kata dia.

Artikel terkait lainnya