Kepala BGN Jawab Mutar-Mutar Saat Ditanyai Soal Sisa MBG, Tuai Sindiran Pedas: Keliatan Banget Kosongnya!

DEMOCRAZY.ID – Anggota Anggota Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Reza Sudrajat mengkritik jawaban Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono terkait jawabannya mengenai sisa Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Sebagai Kepala BGN, beliau keliatan banget kosongnya,” kata Reza dikutip dari unggahannya di X, Selasa (22/9/2026).

Reza mengatakan jawaban Sudaryono juga menunjukkan tak adanya rencana strategis dari BGN mengatasi persoalan tersebut.

“Dan kaya ga punya rencana strategis soal kemana makanan sisa itu? Karena ujung ujungnya bakalan jadi sampah kalo ga kemakan,” ucapnya.

Apalagi, kata Reza, jawaban Sudaryono malah meminta masyarakat bijak.

“Tapi jawaban beliau, malah menyuruh masyarakat arif (bijak) dalam pendidikan ini,” ucapnya.

Reza juga menyoroti bagaimana MBG menggunakan anggaran pendidikan.

“Padahal MBG ini adalah dana publik dan anggaran pendidikan yang jadi korban. Belum lagi sampah yang ditimbulkan oleh MBG, sampah disekolah umumnya terjadi peningkatan,” pungkasnya.

Pernyataan Sudaryono

Pernyataan tersebut sebelumnya bermula saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX, Kamis (17/9/2026).

Mulanya, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP, Charles Honoris bertanya kepada Kepala BGN Sudaryono.

“Kalau misalnya orang tua tidak mengizinkan anaknya untuk mengonsumsi, lalu sisa makanannya, makannya akan dibuat apa? Apakah dikembalikan? Dibuang atau seperti apa? Karena tidak dikonsumsi,” kata Charles.

Tidak berhenti di situ, Charles memberi gambaran.

“Misalnya, ada satu sekolah 40 persen menolak, 60 persen mengonsumsi, atau bahkan sebaliknya. Lalu seperti apa jumlah yang akan dikirim ke sekolah itu?” ujarnya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Sudaryono mengatakan pihaknya akan mengirim jumlah porsi MBG sesuai jumlah siswa.

”Sampai saat ini Pak Charles, sekolah itu. Kalau sekolah negeri itu harus iya. Iya semua. Manakala tidak, tidak semua,” kata Sudaryono.

Sudaryono mengulang-ulangi pernyataan tersebut.

“Karena kalau ini kan masalah, memang kita terkait itu ya, memang ada satu dua. Misalnya kalau sejauh ini Pak Charles, itu adalah keputusannya adalah saya sampaikan, iya iya semua dan tidak, tidak semua,” ucapnya.

Menurutnya, tidak mungkin memberikan satu sekolah porsi yang berbeda dengan jumlah siswa.

“Tidak mungkin dalam satu sekolah itu, kemudian ada satu dua yang temannya makan, kemudian dia tidak makan sendiri atau temannya tidak makan, dia makan sendiri,” ujarnya.

Menurut Sudaryono, pendidikan mesti arif.

MBG pun bukan sekadar suka atau tidak suka.

“Itu saya kita-kita juga kita harus arif dalam pendidikan ini. Bukan hanya suka atau tidak suka,” terangnya.

👇👇

Artikel terkait lainnya