DEMOCRAZY.ID — Sosiolog asal Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir, memberikan sorotan tajam terhadap keterlibatan berkelanjutan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam kancah politik nasional meskipun masa jabatannya telah berakhir.
Sulfikar menilai bahwa dalam praktiknya, adalah hal yang wajar jika seorang politikus berupaya merawat atau melanjutkan warisan kebijakan (legacy) ke generasi kepemimpinan berikutnya.
Namun, ia melihat ada kejanggalan yang mencolok pada diri Jokowi yang terus aktif bermanuver di panggung politik praktis saat ini.
“Namun, ada yang janggal pada Jokowi. Dia berada di kontestasi politik saat ini, sepertinya ada yang belum selesai,” kata Sulfikar, dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Selasa (1/9/2026).
Lebih lanjut, akademisi bidang sosiologi bencana itu melontarkan analogi yang cukup telak untuk menggambarkan perilaku politik cawe-cawe yang masih ditunjukkan oleh Jokowi.
a mengibaratkan kondisi tersebut seperti sosok yang belum tuntas urusannya di dunia.
“Analoginya seperti arwah yang urusan dunianya belum selesai, makanya gentayangan,” ujarnya.
Menurut Sulfikar, idealnya seorang kepala negara yang telah menuntaskan masa pengabdian selama dua periode kepemimpinan mestinya mengambil jarak dari hiruk-pikuk kontestasi politik, menikmati masa purna tugas secara tenang, serta membiarkan roda pemerintahan berjalan secara mandiri.
“Sudah meninggalkan banyak legacy, seharusnya mengambil jarak, beristirahat, dan hidup tenang, tetapi dia tidak,” tuturnya.
Ia menduga kuat bahwa keterlibatan aktif yang terus dipaksakan tersebut bersumber dari gejala psikologis post power syndrome—suatu kondisi stres atau kecemasan akibat kehilangan kekuasaan dan pengaruh yang sebelumnya melekat.
“Menurut saya, itu alasannya masih cawe-cawe. Dia mencari kendaraan politik baru, mobilisasi sukarelawan,” tegasnya.
Sebagai salah satu bukti konkret dari cawe-cawe politik tersebut, Sulfikar merujuk pada momen kebersamaan Jokowi dengan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, dalam sebuah forum publik.
Di mana saat itu, Budi Arie melontarkan pandangan kontroversial mengenai potensi percepatan pemilu sementara Jokowi duduk di sampingnya.
“Salah satunya, pertemuan dengan Budi Arie itu,” pungkas Guru Besar Sosiologi Bencana NTU Singapura tersebut.
[FULL VIDEO]