DEMOCRAZY.ID – Sosiolog Sulfikar Amir menganalisis hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Jokowi. Dia menyinggung indikasi perpecahan koalisi.
Sulfikar menyampaikan posisi Prabowo Subianto saat ini sudah jelas, tidak melanjutkan program-program yang diwariskan rezim Jokowi.
Sulfikar mengatakan program-program Jokowi tidak masuk dalam agenda besar pemerintahan Prabowo Subianto.
Dia menyebut IKN, Kereta Cepat, dan lainnya, memang akan diselesaikan Prabowo.
Namun, program warisan Jokowi itu tidak akan dibuat lebih besar.
“Prabowo tidak akan membuat IKN, Kereta Cepat itu lebih besar. Sebab, hanya menguntungkan Jokowi. Prabowo juga punya ambisi dan imajinasi,” katanya.
Sulfikar mengatakan Prabowo Subianto pasti akan maju menjadi capres, jika Pilpres 2029 terjadi.
Hal yang menjadi pertanyaan adalah siapa cawapres yang akan mendampingi.
Dia menyampaikan Jokowi masih melakukan cawe-cawe politik, karena berusaha supaya Gibran Rakabuming Raka, bisa dipilih menjadi cawapres pendamping Prabowo.
“Jokowi akan berusaha, agar Gibran tetap menjadi cawapres. Kalau tidak, skenario lain akan muncul,” ujarnya, dikutip dari Youtube Abraham Samad Speak Up, Selasa (1/9).
Sulfikar mengatakan Jokowi dalam beberapa momen terlihat mengirimkan pesan-pesan kecewa mengenai kepemimpinan Prabowo Subianto.
Dia mengungkapkan adanya pesan kecewa itu, karena Wapres Gibran tidak diberikan ruang yang cukup dan disingkirkan secara simbolik.
Salah satu contohnya, yakni Gibran yang duduk sejajar dengan menteri koordinator saat rapat kabinet.
“Jokowi, sepertinya mengirimkan pesan-pesan kecewa mengenai apa yang dilakukan Prabowo Subianto,” katanya.
Sulfikar mengatakan indikasi-indikasi adanya perpecahan itu sesuatu hal yang sangat logis dalam politik kekuasaan.
Dia menyampaikan ketika ada dua kekuatan besar saling berkoalisi, tinggal menunggu waktu saja untuk pecah.
“Perpecahan tidak bisa dihindari. Sama halnya ketika ada dua monster berkoalisi. Setelah menang, salah satunya akan memakan yang lain,” katanya.
Sulfikar mengatakan kekuasaan itu merupakan hal yang tidak bisa dibagi, dan harus terkonsentrasi pada satu pemenang.
Dia menyinggung kemesraan yang terlihat berupa foto Prabowo dengan Jokowi di Istana, atau momen makan bersama, tidak memastikan hubungan keduanya baik-baik saja.
“Jokowi dan Prabowo bisa saling memangsa. Foto bersama di Istana, tetapi di balik layar, bisa menikam dari belakang,” ucapnya.
[FULL VIDEO]