DEMOCRAZY.ID – Riwayat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Sydney, Australia, kembali menjadi sorotan.
Kali ini, status lembaga pendidikan yang disebut dalam dokumen penyetaraan pendidikan Gibran dipertanyakan.
Polemik tersebut dibahas dalam dialog interaktif yang ditayangkan melalui kanal YouTube BANG EDY CHANNEL dikutip Rabu (26/8/2026).
Dalam dialog tersebut, jurnalis senior Edy Mulyadi menghadirkan Agus Yunanto, mantan pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang mengaku melakukan penelusuran terkait riwayat pendidikan Gibran di Australia.
Agus mengatakan informasi awal mengenai pendidikan Gibran di Sydney diperolehnya dari Iksan Katuwande, rekannya yang telah tinggal di Sydney selama lebih dari 30 tahun.
Menurut Agus, pada 2018 Iksan pernah mendapat tugas dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Sydney untuk mendampingi Gibran dan keluarganya selama berada di Australia.
“Pada tahun 2018, Pak Iksan mendapat tugas dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Sydney untuk mendampingi Gibran dan keluarganya yang sedang berkunjung ke sana. Dari pendampingan itulah Pak Iksan mendapatkan informasi langsung dari Gibran mengenai riwayat pendidikannya selama berada di Australia,” ujar Agus.
Agus kemudian mengaku bersama sejumlah pihak menelusuri lembaga pendidikan yang disebut dalam dokumen resmi terkait riwayat pendidikan Gibran.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah keterangan dalam dokumen penyetaraan pendidikan yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) Kemendikbud.
Dalam dokumen tersebut, Gibran disebut menyelesaikan pendidikan Grade 12 di UTS Insearch Sydney.
Namun, Agus mempertanyakan penyebutan lembaga tersebut.
Ia mengklaim berdasarkan penelusuran di Sydney dan informasi dari sejumlah orang yang pernah belajar di sana pada 2005-2006, lembaga tersebut pada saat itu bernama Insearch Language Center.
“Ini harus diperjelas. Pada tahun 2005 hingga 2006, namanya memang murni Insearch Language Center, bukan UTS Insearch atau University of Technology Sydney (UTS),” tegas Agus.
Menurut Agus, Insearch Language Center pada periode tersebut merupakan lembaga yang menyediakan kursus bahasa Inggris atau preparatory English course.
Program tersebut, kata dia, ditujukan untuk mempersiapkan calon mahasiswa yang kemampuan bahasa Inggrisnya belum memenuhi persyaratan masuk perguruan tinggi.
“Di sana itu tempat kursus bahasa Inggris untuk persiapan masuk ke jenjang perguruan tinggi jika nilai tes bahasa Inggris IELTS atau TOEFL seseorang belum memenuhi syarat. Programnya pun singkat, ada yang 6 bulan hingga 9 bulan,” jelasnya.
Agus juga menyebut lembaga tersebut memberikan sertifikat kemampuan bahasa setelah peserta menyelesaikan program, bukan ijazah akademik.
“Bukan ijazah akademik,” katanya.
Persoalan lainnya muncul ketika Agus menyoroti dokumen penyetaraan pendidikan Gibran.
Dalam dokumen tersebut, pendidikan Grade 12 di UTS Insearch Sydney disebut setara dengan pendidikan SMK peminatan Akuntansi dan Keuangan.
Agus mengaku bingung dengan penyetaraan tersebut karena, berdasarkan penelusurannya, materi yang diajarkan di Insearch Language Center saat itu berfokus pada bahasa Inggris.
“Tidak ada kurikulum atau pelajaran yang berkaitan dengan materi akuntansi maupun keuangan. Jadi sangat membingungkan bagaimana sebuah kursus bahasa bisa dinilai memiliki pengetahuan yang disetarakan dengan SMK Akuntansi,” kata Agus.
Ia juga mempertanyakan penggunaan nama UTS Insearch dalam dokumen tersebut karena menurutnya nomenklatur tersebut belum digunakan secara resmi pada periode 2005-2006.
Pernyataan Agus kemudian mendapat sorotan karena berkaitan dengan dokumen resmi negara mengenai penyetaraan pendidikan.
Edy Mulyadi menilai persoalan tersebut perlu mendapat penjelasan lebih lanjut agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
“Ini hal yang sangat krusial. Pembuatan dokumen atau penyampaian keterangan yang tidak sesuai dengan fakta lapangan dalam akta otentik memiliki konsekuensi hukum yang tegas. Publik berhak mendapatkan kejelasan dan transparansi yang sejujurnya, apalagi ini menyangkut kualifikasi seorang calon pemimpin nasional,” ujar Edy.
Di akhir dialog, Edy dan Agus mendorong pihak-pihak terkait membuka bukti konkret mengenai riwayat pendidikan Gibran di Australia.
Mereka menilai transparansi diperlukan untuk menjawab polemik yang kembali ramai diperbincangkan.
Namun, klaim mengenai status lembaga pendidikan Gibran tersebut sejauh ini berasal dari penelusuran dan pernyataan Agus Yunanto dalam dialog tersebut.
Belum ada verifikasi independen yang mengonfirmasi seluruh tudingan yang disampaikan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Gibran Rakabuming Raka, Kementerian Pendidikan, maupun UTS Insearch terkait klaim yang dibahas dalam dialog tersebut.