DEMOCRAZY.ID – Pernyataan lama Guru Besar St. Petersburg State University, Connie Rahakundini Bakrie, kembali menjadi sorotan di tengah ramainya pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan adanya “percepatan” sebelum 2029.
Pernyataan Budi Arie yang disampaikan dalam sebuah forum bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) memunculkan beragam tafsir di ruang publik.
Salah satunya dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya perubahan politik sebelum berakhirnya periode pemerintahan saat ini.
Di tengah polemik tersebut, potongan pernyataan lama Connie kembali beredar di media sosial.
Dalam pernyataan itu, Connie pernah membahas spekulasi mengenai masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto serta kemungkinan Gibran Rakabuming Raka mengambil alih posisi tersebut.
Dalam pernyataannya, Connie mempertanyakan berapa lama Prabowo akan menjabat sebagai Presiden.
Ia kemudian menyebut adanya skenario yang menurutnya mengarah pada masa kepemimpinan Prabowo selama dua tahun, sebelum dilanjutkan Gibran selama tiga tahun berikutnya.
“Emang Pak Prabowo ini bakal jadi presiden berapa lama? Jadi rencananya dua tahun,” ujar Connie, Selasa (25/8/2026).
“Tiga tahun berikutnya diikuti oleh Gibran. Saya langsung bangun. Jadi akan dua tahun, lalu langsung diganti oleh Gibran. Pertanyaan gue bodoh aja nih,” tambahnya.
Pernyataan tersebut kini kembali ramai dibicarakan setelah muncul istilah “percepatan” yang dilontarkan Budi Arie.
Namun, tidak ada keterangan dalam pernyataan Budi Arie yang secara eksplisit menyebut bahwa “percepatan” yang dimaksud berkaitan dengan pergantian Presiden Prabowo oleh Gibran.
Dalam pernyataan lamanya, Connie juga melontarkan pertanyaan keras terkait kemungkinan Prabowo tidak menyelesaikan masa jabatannya.
“Lu yakin Prabowo dibiarkan hidup oleh Jokowi dua tahun? Kalau saya jadi Gibran atau jadi Pak Jokowi, saya matiin besok,” tukasnya.
Connie kemudian menghubungkan pandangannya dengan perjalanan politik Jokowi sebelum menjadi Presiden.
“Loh, betul gak sih? Kalau dia bisa mengkhianati Ibu Megawati Soekarnoputri dengan segala perjuangan yang menjadikan dia,” jelasnya.
“Ada di istana sampai dua kali. Ada jadi Gubernur Jakarta. Ada jadi wali kota,” sambungnya.
Dari rangkaian pernyataan tersebut, Connie kemudian mempertanyakan kemungkinan adanya pengkhianatan politik terhadap Prabowo.
“Apa bedanya dia bisa bunuh Pak Prabowo di tengah jalan, makanya statement saya kan jadi kuat,” imbuhnya.
Connie juga kembali menegaskan pandangannya mengenai posisi Prabowo dalam konfigurasi politik tersebut.
“Bahwa Pak Prabowo itu digunakan, bahwa Gibran itu memberatkan. Itu kan bahasa-bahasa saya. Dan saya, of course, saya bilang, saya gak mungkin ada di sana,” tegasnya.
Sebelumnya, Budi Arie dalam sebuah acara menyinggung kemungkinan terjadinya sesuatu yang disebutnya sebagai “percepatan” sebelum 2029.
Tidak diketahui secara pasti kapan dan dalam konteks apa acara tersebut berlangsung.
Namun, potongan pernyataan Budi Arie itu kemudian mendapat perhatian setelah beredar di media sosial.
Tidak sedikit yang kemudian berasumsi bahwa Prabowo tidak akan menjadi Presiden selama satu periode penuh dan akan digantikan.
Budi Arie bahkan mengaku telah mendapat izin dari Jokowi untuk menyampaikan pandangannya mengenai kondisi politik dan sosial yang menurutnya tengah mengalami situasi tidak biasa.
Dalam pertemuan tersebut, Budi Arie mengatakan dirinya memiliki insting mengenai kemungkinan terjadinya perubahan yang lebih cepat dari perkiraan.
Ia kemudian meminta agar kemungkinan tersebut turut diperhitungkan, meski menurutnya belum tentu semua pihak menginginkan hal itu terjadi.
“Saya ingin sampaikan, dan saya sudah diizinkan Pak Jokowi. Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?” ujar Budi Arie, Selasa (25/8/2026).
Budi kemudian mempertanyakan kesiapan menghadapi kemungkinan adanya perubahan sebelum tahun yang selama ini menjadi patokan.
“Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong, oh ini 2029, ini 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?” tukasnya.
Pernyataan tersebut tidak secara eksplisit menjelaskan bentuk “percepatan” yang dimaksud Budi Arie.
Budi Arie kemudian mengaitkan pandangannya dengan sejumlah dinamika sosial yang terjadi belakangan.
Ia menyebut adanya aksi demonstrasi serta situasi masyarakat yang menurutnya menunjukkan kondisi tidak normal.
“Jangan, maksud saya begini loh, saya pengalaman dengan gerak sejarah, ini adalah yang abnormal di masyarakat saat ini,” jelasnya.
Ia lantas menyinggung aksi massa di Pati dan Madura serta membandingkannya dengan situasi menjelang Reformasi 1998.
“Ini demo Pati, Madura, demo Pati ikut tandingan, nah ini kayak 98, pasti kalah yang preman,” bebernya.
👇👇
Ngeri banget mainnya ya.🤦 https://t.co/yMcG0abY9i pic.twitter.com/pVf5yv9teW
— Chusnul ch💞timah (@ch_chotimah2) August 24, 2026
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan berbagai tafsir setelah potongannya beredar di ruang publik.
Mantan Ketua Umum PKN Anas Urbaningrum sebelumnya juga ikut menanggapi.
Anas menilai substansi pembicaraan Budi Arie sebenarnya lazim menjadi bahan diskusi para pengamat, analis, dan politisi.
Namun, Anas mengakui keberadaan Jokowi dalam forum tersebut membuat pernyataan Budi Arie menjadi lebih menarik untuk ditafsirkan.
“Tapi, menjadi bahan tafsir yg menarik dan mendalam, krn ada Pak Jokowi di forum itu,” kata Anas.
Anas pun memilih menyerahkan penafsirannya kepada publik.
“Monggo ditafsirkan sendiri. Bebas,” timpalnya.