DEMOCRAZY.ID – Ketua Umum Militan Gibran 08 Nusantara, Andi Azwan, merespons sayembara pembuktian ijazah SMA Wapres Gibran Rakabuming Raka yang digagas Prof Denny Indrayana.
Seperti diketahui, Prof Denny Indrayana pada Jumat ini menaikkan hadiah sayembara ijazah SMA atau sederajat Gibran hingga angka Rp2 Miliar.
Andi pun menduga sayembara itu bagian dari upaya terorganisasi untuk menjegal Gibran agar tidak menjadi lawan berat di Pemilu 2029.
“Denny Indrayana ini mempunyai motif politik di belakang dia mengadakan sayembara ini,” ujar Andi, Kamis (20/8/2026).
Dikatakan Andi, polemik ijazah Gibran bukan sekadar persoalan hukum atau administrasi pendidikan.
Ia menduga ada gerakan terencana yang melibatkan sejumlah kelompok, mulai dari aktivis hingga purnawirawan, yang selama ini kritis terhadap Jokowi, Gibran, dan Prabowo.
“Dengan perhitungan bahwa 2029 kalau kedua pasangan ini tetap berlanjut, itu mereka tidak mempunyai celah untuk menggolkan menjadikan kandidatnya itu sebagai presiden,” ucapnya.
Ia menyebut kelompok purnawirawan berupaya mendorong pemberhentian Gibran, sementara Roy Suryo dan dr Tifauzia Tyasumma lebih fokus menyerang ijazah Jokowi.
Menurut Andi, semua gerakan itu berada dalam satu lingkaran dengan sasaran politik berbeda.
“Makanya apa yang dilakukan mereka ini walaupun mereka ini satu kolam tapi mempunyai tanggung jawab berbeda-beda,” tukasnya.
Andi juga menyinggung nilai sayembara yang terus bertambah.
Ia bahkan menyebut angka itu bisa terus naik hingga Rp32 miliar, yang kemudian ia kaitkan dengan kasus payment gateway yang pernah menyeret Denny.
“Kalau kita lihat dalam sayembaranya ini ya mungkin dia akan kumpul sampai Rp32 miliar untuk dia bayar kasus korupsi payment gateway itu,” kata Andi.
Ia berharap Bareskrim Polri kembali menaikkan kasus tersebut.
“Kami sih berharap bahwa Bareskrim Polri terus menaikkan kasus ini,” tegasnya.
Andi juga melontarkan sindiran bahwa sayembara ini hanya upaya Denny untuk naik pamor, alias pansos.
“Ya istilahnya namanya quote unquote itu adalah panjat sosial atau pansos untuk itu,” kuncinya.
Bagi Andi, sayembara ini tidak lebih dari upaya kelompok tertentu untuk mencari celah agar kandidatnya bisa maju di 2029.
Sementara itu, Gibran dianggap sebagai penghalang yang harus disingkirkan.