CATAT! Kubu Anies Tolak Gibran Mentah-Mentah di 2029: ‘Haram Berpasangan Dengan Perusak Konstitusi’

DEMOCRAZY.ID – Wacana mengenai pasangan calon yang akan berlaga pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai mencuat.

Salah satu konfigurasi yang menjadi perbincangan ialah kemungkinan mempertemukan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Namun, wacana tersebut mendapat penolakan dari Geisz Khalifah, mantan Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol sekaligus sahabat Anies.

Ia mengaku sulit menerima apabila Anies pada akhirnya memilih Gibran sebagai calon wakil presiden.

Menurut Geisz, dukungannya kepada Anies selama ini tidak dibangun atas kepentingan materi ataupun keuntungan politik.

Ia merasa memiliki kesamaan visi, gagasan, dan nilai dengan Anies yang menjadi alasan dirinya terlibat dalam perjuangan politik.

Karena itu, Geisz menilai prinsip tidak semestinya dikorbankan hanya demi memperoleh kekuasaan.

Geisz secara terbuka mengatakan hampir semua tokoh politik dapat dipasangkan dengan Anies, tetapi tidak dengan Gibran.

“Semua orang cocok sama Anies kecuali Gibran. Kecuali Gibran,” ujar Geisz, dikutip Minggu (16/8/2026).

Ia kemudian menjelaskan alasan di balik penolakannya.

Geisz menyoroti persoalan yang berkaitan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang mengubah ketentuan batas usia minimum calon presiden dan calon wakil presiden menjelang Pilpres 2024.

Menurut dia, persoalan tersebut menyentuh wilayah prinsip dan etika politik.

“Dibuat sayang gak cocok aja gitu, ya gimana Anies intelektual bersih terus didampingi sama anak haram konstitusi,” kata Geisz.

Ia menilai, jika Anies menggandeng Gibran semata-mata untuk kepentingan elektoral, keputusan itu justru berpotensi bertentangan dengan nilai yang selama ini menjadi dasar dukungannya.

“Itu sama aja kita merusak diri kita sendiri. Menutup mata untuk sebuah ketidakbenaran demi kekuasaan,” tegasnya.

Geisz Tak Ingin Dukungan Berubah karena Kekuasaan

Geisz mengatakan dirinya mendukung Anies karena meyakini gagasan dan visi yang dibawa mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Ia menyebut dukungan itu diberikan dengan sepenuh tenaga dan pikiran, bukan karena berharap memperoleh keuntungan dari politik.

“Yah gak usah berteman sama gua, kan kita dukung Anies itu dengan, apa, kalau bahasa hiperbolanya segenap hati, segenap pikiran, segenap tenaga,” ujar Geisz.

“Karena apa? Karena visi, karena nilai. Lalu tiba-tiba dia lompat dari itu demi kekuasaan, ya jalan sendiri aja sana, ngapain sih temenin?” lanjutnya.

Bagi Geisz, kompromi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari politik. Namun, kompromi tetap memiliki batas, terutama ketika menyangkut prinsip dan persoalan etika.

Singgung Putusan MK Nomor 90

Geisz kembali menyinggung Putusan MK Nomor 90 yang menjadi salah satu dasar terbukanya jalan bagi Gibran untuk maju sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024.

“Ya jelas dong, kan MK 90 kan cacat fundamental itu,” ucapnya.

Ia memahami politik sebagai arena yang mempertemukan kepentingan berbeda.

Karena itu, menurut dia, konsensus dan kompromi politik merupakan sesuatu yang tidak selalu dapat dihindari.

“Terus karena politik, politik adalah konflik dan konsensius, kita harus lihat komprominya, konsensiusnya,” tuturnya.

Namun, ia menegaskan kompromi tidak boleh menyentuh wilayah prinsipil.

“It’s okay dalam hal-hal yang tidak prinsipil. Kalau sudah masalah etik, dia melanggar yang dikatakan sendiri,” kata Geisz.

Pilih Diam Jika Anies Keluar dari Gagasan

Kedekatannya dengan Anies, kata Geisz, tidak membuat dirinya harus selalu menyetujui setiap keputusan politik sahabatnya.

Ia mengaku akan mengambil sikap apabila Anies suatu saat memilih langkah yang dinilainya keluar dari gagasan dan nilai yang selama ini diperjuangkan.

“Kan begitu. Orang boleh ngomong Geisz Khalifah loyalisnya, iya. Dalam konteks gagasan, kalau dia melewati dari gagasannya?” ujarnya.

Geisz mengatakan dirinya tidak akan memaksakan kehendak atau menyerang Anies apabila terjadi perbedaan prinsip. Ia lebih memilih mengambil jarak.

“Saya tidak bisa mengkritik teman. Paling tidak, saya diam. Saya tinggalin,” katanya.

Menurut Geisz, keterlibatannya dalam politik sejak awal bukan untuk mengejar keuntungan pribadi.

Ia merasa ada gagasan yang perlu diperjuangkan demi kepentingan bangsa.

“Buat apa? Kan kita gak nyari duit di politik. Kita ikut terlibat karena kita merasa bahwa ada sesuatu yang baik untuk bangsa ini,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya