DEMOCRAZY.ID – Pakar Hukum Tata Negara Prof. Denny Indrayana kembali menyoroti permintaannya agar dokumen pendidikan SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ditunjukkan kepada publik.
Denny mengaku kecewa dengan respons yang diterimanya setelah melontarkan sayembara terkait ijazah SMA Gibran.
Menurutnya, persoalan tersebut sebenarnya dapat diselesaikan dengan cara sederhana, yakni menunjukkan dokumen yang dimaksud kepada publik.
Denny mempertanyakan alasan ijazah SMA Gibran sulit ditampilkan kepada publik.
Menurutnya, apabila dokumen tersebut memang ada dan tidak bermasalah, menunjukkan ijazah seharusnya bukan persoalan yang rumit.
“Saya minta tunjukkan saja ijazah SMA kok sulit sekali Mas Gibran?” ujar Denny, Jumat (14/8/2026).
Ia juga menyinggung respons Ketua Jokowi Mania (Joman) Nusantara, Andi Azwan, yang cukup keras terhadap isu tersebut.
“Bung Andi Azwan, juga galak amat. Tinggal tunjukkan selesai,” tukasnya.
👇👇
Saya minta tunjukkan saja ijazah SMA kok sulit sekali Mas Gibran? Bung Andi Azwan, juga galak amat. Tinggal tunjukkan selesai.
Ayo sayembara yang bisa tunjukkan ijazah Mas Gibran masih berlaku. Hadiahnya per hari ini naik menjadi Rp 250 juta.
Salam Integritas! pic.twitter.com/NtnAHs9vs4
— Denny Indrayana (@dennyindrayana) August 14, 2026
Tidak berhenti pada permintaan tersebut, Denny kembali memperbarui nilai hadiah dalam sayembara yang sebelumnya ia lontarkan.
Ia mengajak pihak yang mampu menunjukkan ijazah SMA Gibran untuk mengikuti sayembara tersebut.
Menurut Denny, hadiah yang disiapkannya kini telah meningkat menjadi Rp250 juta.
“Ayo sayembara yang bisa tunjukkan ijazah Mas Gibran masih berlaku,” ucapnya.
Denny kemudian menegaskan bahwa nilai hadiah tersebut telah dinaikkan dari jumlah sebelumnya.
“Hadiahnya per hari ini naik menjadi Rp250 juta,” tegasnya.
Sebelumnya, Andi Azwan menyebut langkah Denny tersebut tidak lebih dari upaya mencari perhatian publik dengan membuat isu yang dianggap sensasional.
Menurut Andi, serangan Denny tidak hanya diarahkan kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), tetapi kini juga menyasar Gibran.
“Apa yang dilakukan Denny Indrayana, ini berulang kali melakukan serangan-serangan. Bukan hanya ke Jokowi, juga kepada Mas Wapres Gibran Rakabuming Raka,” ujar Andi, Senin (10/8/2026).
Ia menilai langkah tersebut sengaja dikemas untuk menarik perhatian luas dari publik.
“Kalau kita lihat, ini adalah bentuk dari cari perhatian (caper) Denny Indrayana. Ingin membuat sesuatu yang sensasional gitu,” ucapnya.
Lebih jauh, Andi tidak menutup kemungkinan adanya pesan politik di balik berbagai pernyataan Denny Indrayana tersebut.
Bahkan, ia melontarkan dugaan bahwa Denny bisa saja menjadi proksi dari pihak asing.
“Terlepas apakah ada pesan politik di dalamnya, kita melihatnya Denny Indrayana ini bisa saja merupakan proksi dari antek-antek asing yang dikatakan Londo Ireng oleh Presiden Prabowo,” tukasnya.
Andi kemudian menyentil rekam jejak Denny yang menurutnya kerap mengambil posisi berseberangan dengan pemerintahan setelah era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Karena selama ini apa yang dilakukan Denny Indrayana, selalu bertentangan dengan pemerintahan setelah SBY tidak berkuasa kembali,” imbuhnya.
Andi juga menyinggung langkah Denny Indrayana yang membuat surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto dan meminta agar Gibran diberhentikan dari posisi Wakil Presiden.
Menurutnya, langkah tersebut semakin memperlihatkan upaya Denny untuk kembali menjadi pusat perhatian.
“Inilah yang membuat kita merasa bahwa Denny Indrayana ini ingin menjadi pusat perhatian kembali oleh masyarakat Indonesia,” tegas Andi.
Andi menilai surat tersebut menjadi salah satu cara Denny mendapatkan atensi publik melalui isu politik yang menyangkut posisi Gibran.
“Ingin mendapat perhatian terhadap langkah-langkah dia membuat surat kepada Presiden untuk memberhentikan Mas Wapres Gibran,” terangnya.
Meski demikian, Andi mengaku tidak terlalu menganggap serius manuver Denny Indrayana tersebut.
Ia memilih melihat berbagai serangan terhadap Gibran sebagai bagian dari upaya mendapatkan perhatian publik.
“Tapi buat saya kita anggap saja lelucon yang dilakukan Denny Indrayana untuk mendapatkan atensi publik,” kuncinya.