DEMOCRAZY.ID – Pengamat militer dan intelijen, Prof Connie Rahakundini Bakrie, menyampaikan kritik tajam terkait kondisi politik dan ekonomi nasional menjelang dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam perbincangannya bersama pengamat politik Hendri Satrio di kanal YouTube Hendri Satrio Official, Kamis (13/8/2026) Connie menyoroti berbagai isu krusial, mulai dari efektivitas program pemerintah, beban ekonomi masyarakat, hingga dinamika politik internal di sekeliling pimpinan negara.
Salah satu poin utama yang disoroti Connie adalah keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski mengakui bahwa ide awal program tersebut bertujuan baik, ia mengkritik besarnya alokasi anggaran yang dinilai menguras keuangan negara di tengah situasi ekonomi masyarakat yang sedang terjepit.
“Saya bukan anti MBG. Idenya mungkin ada benarnya. Tetapi kalau setelah berjalan dalam sekian waktu terlihat tidak efektif, harusnya dievaluasi atau dihentikan,” ujar Connie.
Selain masalah anggaran program prioritas, Connie menyoroti keresahan masyarakat terhadap tekanan perpajakan dan kenaikan biaya hidup.
Menurutnya, pemungutan pajak hingga ke tingkat usaha kecil tanpa dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan justru memicu keputusasaan publik, bahkan mendorong sebagian warga terjerat pinjaman online demi memenuhi kebutuhan mendesak.
Pengamatan Connie selama melakukan perjalanan ke sejumlah daerah di Jawa Barat juga memicu pertanyaan besar terkait pembangunan gedung-gedung Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Ia menjumpai banyak bangunan fisik koperasi di lokasi-lokasi yang dinilainya kurang strategis, seperti di pinggir jurang, dekat sekolah dasar yang rusak, hingga di tengah perkebunan.
Ia mempertanyakan konsep operasional serta urgensi pembangunan fisik tersebut di saat fasilitas publik dasar seperti sekolah masih membutuhkan perbaikan mendesak.
Connie mengkhawatirkan proyek-proyek fisik ini berisiko mangkrak jika tidak dikelola dengan perencanaan fungsi ekonomi yang matang bagi masyarakat desa.
Dalam pandangan geopolitik dan analisisnya, Connie menilai Presiden Prabowo memiliki iktikad untuk memimpin dengan baik.
Namun, ia menduga sang Kepala Negara kerap mendapatkan informasi yang terbatas atau tidak sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan akibat dorongan dari lingkaran terdekatnya.
“Mungkin beliau dikelilingi oleh orang-orang yang tidak berani atau terhalangi untuk berkata jujur kepada beliau,” ungkapnya.
Ia juga menyayangkan narasi-narasi publik serta penyebulan istilah londo ireng terhadap pimpinan LSM, akademisi, maupun wartawan kritis.
Narasi pembelahan politik yang terus dipelihara dinilai hanya menimbulkan kegaduhan publik ketimbang menyelesaikan akar permasalahan bangsa.