

DEMOCRAZY.ID — Misteri di balik mengapa skripsi milik mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo bisa lebih dulu nongol di ranah digital ketimbang dokumen akademik rekan-rekan seangkatannya akhirnya terjawab sudah.
Pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi membuka kartu dan blak-blakan mengakui adanya perlakuan khusus dalam proses digitalisasi skripsi sang alumni terkemuka.
Penjelasan terang-terangan tersebut disampaikan langsung oleh Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, dalam sebuah klarifikasi resmi yang ditayangkan melalui akun YouTube UGM.
Di hadapan publik, Sigit mengakui tanpa reserve bahwa skripsi Jokowi memang sengaja didigitalkan mendahului urutan normal arsip lulusan lain dari angkatan yang sama.
Keputusan tersebut diambil bukan atas dasar prosedur standar kearsipan kampus, melainkan didorong oleh rasa euforia dan kebanggaan institusi tatkala salah satu alumninya sukses menduduki singgasana tertinggi sebagai orang nomor satu di Republik Indonesia.
“Kita sebagai sebuah institusi pendidikan yang kebetulan alumninya itu menjadi orang nomor satu di Indonesia tentu punya rasa kebanggaan,” ungkap Sigit.
Pihak fakultas lantas mengunggah dokumen bersejarah tersebut ke dalam sistem Electronic Theses and Dissertations (ETD) saat sang kepala negara dijadwalkan melawat ke kampus almamaternya.
“Nah, pada saat Pak Jokowi menjadi presiden dan kebetulan mau berkunjung ke fakultas waktu itu, kami mewujudkan kebanggaan itu dengan cara meng-upload skripsinya Pak Jokowi itu di ETD. Jadi itu betul-betul merupakan wujud kebanggaan,” ujarnya beralasan.
Pengakuan jujur tersebut sekaligus mengonfirmasi adanya diskrepansi kronologis dalam sistem arsip digital UGM.
Sigit membeberkan bahwa ketika badai isu dugaan ijazah palsu mulai memorak-morandakan ruang publik pada bulan April silam, proses digitalisasi arsip di Fakultas Kehutanan sejatinya baru berjalan normal menyentuh dokumen para alumni angkatan 1990.
Sementara itu, Jokowi sendiri diketahui merupakan mahasiswa Fakultas Kehutanan angkatan 1980 yang merampungkan studi dan lulus pada tahun 1985.
Dengan kata lain, dokumen milik Jokowi diselundupkan lebih awal mendahului antrean ribuan arsip senior dan juniornya di luar urutan normal.
“Baru pada sampai tahun 1990 pas angkatan saya… nah sementara skripsinya Pak Joko Widodo itu duluan khusus ya, karena memang alasannya yang saya sampaikan,” kata Sigit blak-blakan.
Meski dalih tersebut dibungkus sebagai bentuk apresiasi almamater kepada sang presiden, pihak fakultas rupanya tidak pernah menduga bahwa langkah “spesial” itu justru menjadi bahan bakar empuk bagi para pengamat dan warganet untuk menggoyang legitimasi akademik sang mantan penguasa.
“Kami tidak pernah berpikir bahwa ini nanti akan digoreng ke sana kemari begitu,” keluhnya.
Di tengah gelombang tekanan publik yang terus mendesak transparansi total atas riwayat pendidikan sang mantan kepala negara, pengakuan terbuka UGM ini justru semakin mempertebal daftar kejanggalan prosedural yang mengiringi perjalanan dinasti kekuasaan Istana lama.