

DEMOCRAZY.ID — Peta jalan kekuasaan nasional kembali diguncang oleh skenario politik tingkat tinggi yang teramat gelap.
Di tengah gelombang kemarahan publik yang terus memuncak, spekulasi mengenai suksesi kepemimpinan nasional sebelum tahun 2029 mulai mengemuka ke permukaan.
Praktisi intelijen senior Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra secara terbuka membeberkan potensi mengejutkan bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bisa saja secara otomatis naik takhta menjadi kepala negara menggantikan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam ulasannya di kanal YouTube 2045 TV, Radjasa menyoroti bahwa faktor kesehatan Presiden Prabowo yang kini telah menginjak usia 74 tahun berada dalam kondisi yang “tidak baik-baik saja”.
Kombinasi antara faktor fisik tersebut dengan potensi letupan sosial akibat desakan publik yang diprediksi memuncak selepas Agustus 2026 diyakini dapat menjadi titik balik dramatis.
“Sesungguhnya gini ya, kita dari kondisi kesehatan Prabowo itu juga enggak baik-baik aja loh. Enggak baik-baik aja. Eh, yang kita khawatirkan nanti ketika terjadi gonjang-ganjing ya kan mulai Agustus dan seterusnya ini bisa juga ya kan tiba-tiba Presiden mengundurkan diri karena desakan publik,” ungkap Radjasa.
Ia menegaskan, skenario pengunduran diri sukarela akibat tekanan massa dan faktor biologis ini memiliki mekanisme hukum yang berbeda dari proses pemakzulan formal di parlemen.
Jika langkah tersebut benar-benar ditempuh, maka estafet kekuasaan akan jatuh secara otomatis ke tangan sang wakil presiden.
Isu lengsernya Prabowo di tengah jalan sejatinya bukanlah barang baru.
Sejak awal kontestasi Pilpres 2024 silam, skenario masa jabatan singkat sempat dilemparkan oleh pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie.
Connie sempat mengklaim mendapat bocoran dari Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) saat itu, Rosan Roeslani, bahwa Prabowo dirancang hanya akan memegang tampuk kepresidenan selama dua tahun pertama, sebelum akhirnya tongkat estafet diserahkan sepenuhnya kepada Gibran Rakabuming Raka.
Namun, klaim tersebut langsung dibantah mentah-mentah oleh Rosan Roeslani.
Dalam konferensi pers resminya, Rosan balik menegaskan bahwa narasi “dua tahun” justru pertama kali dilontarkan oleh Connie sendiri, bahkan dibumbui dengan kalimat spekulatif terkait ancaman keamanan.
“Beliau mengatakan, ‘Ini gimana kalau sudah dua tahun, atau kalau tiba-tiba Pak Prabowo, saya ini orang intelijen, bisa saja Pak Prabowo diracun, bisa lebih cepat, itu gimana?’, dia bilang begitu,” beber Rosan kala itu.
Terlepas dari perdebatan klaim masa lalu, dinamika yang berkembang di paruh kedua 2026 memperlihatkan bahwa bayang-bayang transisi kekuasaan dini kini bukan lagi sekadar isapan jempol.
Ketika ekonomi nasional diterpa badai, legitimasi digoyang gelombang protes, dan lingkaran ring satu sibuk merancang posisi pengamanan masa depan, posisi Presiden Prabowo berada di tengah badai kepentingan.
Apakah skenario pengunduran diri akibat desakan publik ini akan benar-benar menjadi jalan keluar bagi para elite, ataukah justru menjadi pemicu kiamat politik bagi rezim yang ada?