

DEMOCRAZY.ID – Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo membongkar salah satu kebohongan Joko Widodo (Jokowi) yang selama ini ditutup rapat.
Kebohongan yang dilakukan Jokowi ketika masih menjabat Wali Kota Solo adalah soal klaim humanis yang ia lakukan dalam penggusuran lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Banjarsari ke Pasar Notoharjo.
Dimana Jokowi mengklaim dirinya melakukan berbagai cara untuk membujuk masyarakat salah satunya dengan mengajak para PKL makan bersama sebanyak 54 kali.
Rudy dengan tegas membantah itu dia bilang Jokowi hanya ajak makan bersama sebanyak dua kali saja.
“Tanya wartawan! Hanya dua kali beliau (Jokowi) yang hadir. Sisanya saya sendiri yang turun,” kata Rudy dalam dalam podcast Akbar Faizal Uncensored dikutip Rabu (29/7/2026).
Rudy mengatakan, kontribusi Jokowi dalam penggusuran yang dilakukan dengan pendekatan humanis nyaris tak terlihat, justru Rudy yang sebagai wakil wali kota Solo ketika itu lebih banyak duduk bareng masyarakat memberikan pemahaman hingga mereka menerima relokasi tersebut.
Menurut Rudy, angka 54 tidak benar-benar menggambarkan jumlah kehadiran Jokowi.
Ia mengaku lebih banyak turun langsung menemui para pedagang.
“Itu yang diklaim karena waktu itu telepon saya sampaikan saja kita bertemu itu 54 kali. Namun saya kan enggak tahu kondisinya seperti begini ini. Kalau tahu seperti begini ngapain saya harus ngomong seperti itu?” kata Rudy.
Dalam kesempatan itu Rudi juga membongkar kebohongan Jokowi lainnya yakni pengakuan yang menyebut rumah Jokowi mengalami penggusuran hingga tiga kali.
“Yang digusur tiga kali itu saya, bukan Pak Jokowi,” kata Rudy.
Rudy menyebut peristiwa tersebut terjadi sejak masa kecil, mulai dari kepindahan setelah ayahnya meninggal, penggusuran akibat normalisasi Bengawan Solo, hingga tekanan dari warga di tempat tinggalnya.
“Bohong, memang bohong (Jokowi),” kata Rudy.
Pengalaman itu juga pernah Rudy ceritakan pada 2021.
“Selama hidup saya mulai usia 5 hingga 15 tahun, saya pernah tergusur tiga kali tanpa mendapatkan ganti rugi,” pungkas Rudy.
Mantan Wali Kota Solo sekaligus politisi PDI Perjuangan FX Hadi Rudyatmo blak-blakan soal muasal mobil esemka atau SMK yang menjadi kendaraan buat pencitraan Joko Widodo (Jokowi) sejak masih menjadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI hingga Presiden ke-7 RI.
Rudy mengatakan esemka adalah mobil buatan China, bukan mobil nasional yang diinisiasi Jokowi.
Kendaraan itu merupakan bagian dari program pendidikan bagi pelajar SMK di Surakarta kala itu.
Dimana pengadaan mobil itu sebetulnya untuk bahan praktek siswa sekolah kejuruan.
“Itu mobil dari China. Mobil SMK itu sebetulnya mobil pendidikan yang dipakai oleh anak-anak siswa sekolah SMK ini untuk praktik,” kata Rudy dalam dalam sebuah wawancara bersama Akbar Faizal dilansir Rabu (29/7/2026).
Pemerintah kota Solo ketika itu kata Rudy bahkan sempat membawa kendaraan itu ke Jakarta atas bantuan Roy Suryo yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Esemka diboyong ke Jakarta guna uji emisi.
“Itu kita bawa ke Jakarta untuk membuat minta untuk uji emisi itu bisa lulus. Dan saya memanfaatkan waktu itu Roy Suryo,” kata Rudy.
Namun Rudy mengaku kecewa berat ketika pemerintahan Jokowi kemudian menjalin kerja sama dengan perusahaan otomotif Malaysia, Proton.
“Saya sangat kecewa dengan kerja sama itu, perjuangan mobil nasional Esemka tidak ada artinya,” pungkas Rudy.