

DEMOCRAZY.ID – Jakarta kembali mencekam setelah bentrokan antarkelompok pecah di kawasan Jalan Proklamasi, Pegangsaan, Menteng, hingga merembet ke kawasan Tambak dan Matraman pada Minggu (26/7) pagi.
Meski dipicu oleh insiden yang terlihat sepele—keributan di gerobak nasi uduk—banyak pihak mulai mencium adanya aroma desain besar di balik pecahnya kekerasan di titik-titik sensitif ibu kota ini.
Muncul dugaan kuat bahwa rentetan kekerasan ini adalah bagian dari skenario prakondisi untuk memicu kerusuhan yang lebih besar pada bulan Agustus mendatang.
Bentrok Matraman yang melibatkan lemparan batu, penggunaan kayu, bambu, hingga pembakaran kendaraan motor ini bukan sekadar tawuran biasa.
Lokasi kejadian di Matraman dan Tambak memiliki sejarah panjang konflik horizontal yang sangat dalam dan traumatis.
Mengusik wilayah ini ibarat menyulut api di gudang mesiu yang sudah kering.
Seorang warga yang meminta namanya tak disebut, Senin (27/7/2026), menyebut “ada yang bermain” untuk memicu bentrokan horizontal di daerahnya.
“Saya kebetulan asli Matraman. Konflik warga sekitar dengan pihak Ambon sudah ada sejak tahun 80-90an, sewaktu saya masih remaja. Udah banyak yang mati dari dulu. Tapi zaman Orde baru, isu etnis ini ditekan agar tak berkonflik. Anehnya, sekarang tiba-tiba muncul isu ini lagi,” kata dia.
Sentimen ini menunjukkan bahwa Matraman adalah titik saraf yang sangat mudah dieksploitasi untuk kepentingan politik tertentu.
“Ini kayaknya ada yang coba mulai lagi. John Kei saja enggak berani masuk Matraman karena sejarah masa lalu yang kelam di sana. Makanya Kampung Ambon di Matraman dipindah ke Rawamangun,” kata dia.
Insiden berdarah ini bermula saat sekelompok orang mendatangi gerobak nasi uduk di Jalan Matraman Dalam untuk membeli sarapan.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra menjelaskan, ketegangan dipicu oleh ketidakpuasan pelanggan yang kemudian berujung pada aksi pamer kekuatan.
“Anggota kelompok yang diserang ini datang beli sarapan. Dia mungkin tak dilayani secara baik sehingga tak berkenan, lalu menggeber motornya. Dia lalu pergi dan datang lagi membawa kawan-kawannya, merusak gerobak penjual nasi uduk,” kata Roby.
Aksi perusakan gerobak pedagang kecil itu memantik solidaritas warga sekitar yang merasa wilayahnya diusik. Alhasil, bentrokan pun terjadi.
“Warga membalas dengan menyerang basecamp kelompok itu. Itulah akhirnya terjadi keributan besar,” kata Roby.
Dampaknya sangat fatal. Satu orang pemuda berinisial K (23) dinyatakan tewas setelah sempat kritis.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Elisa Partomuan Hutagalung mengonfirmasi kabar duka tersebut.
“Saudara K berusia 23 tahun meninggal dunia. Kami turut berduka,” kata Reynold.
Selain itu, kata dia, satu orang lainnya berinisial DS masih dirawat intensif karena terluka dalam bentrokan.
Seorang Sumber kepada Suara.com, dua pekan sebelum bentrokan itu terjadi, mengungkapkan ada skenario untuk memicu kerusuhan pada Agustus 2026.
“Ada gerakan-gerakan yang ingin memicu kerusuhan. Mengambil momen kerusuhan Agustus tahun lalu. Ini harus diantisipasi oleh para pemangku kebijakan,” kata dia.
Dia mengatakan, Agustus di Indonesia selalu menjadi bulan yang penuh dengan aktivitas massa dan simbolisme nasionalisme.
“Menciptakan ketidakstabilan di jantung Jakarta pada periode ini, diyakini bisa menjadi pintu masuk bagi agenda-agenda politik yang lebih luas, termasuk mendelegitimasi aparat keamanan atau menciptakan ketakutan di tengah masyarakat kota besar,” jelasnya.
Polisi sendiri saat ini tengah berupaya melakukan lokalisasi masalah agar tidak meluas.
Kombes Pol Reynold menekankan, pihaknya melakukan klastering terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk melihat keterkaitan antar kelompok.
“Kami melakukan pengamanan secara komprehensif. Pemeriksaan juga sudah berjalan terhadap 15 orang. Soal klastering, kami beda-bedakan. Ada peristiwa di Matraman, Matraman Dalam, dan peristiwa di Jalan Tambak diklastering,” jelasnya.
Hingga Kekinian, tiga orang berinisial S, T, dan U telah diamankan untuk diperiksa secara intensif di Polsek Menteng.
Polisi juga mendalami kemungkinan para pelaku berada di bawah pengaruh minuman keras saat melakukan provokasi awal.