Jadi Sorotan! Bahlil Disebut Murni ‘Titipan’ Jokowi di Kabinet Prabowo: Dari Rebut Kursi Golkar Hingga Gestur Kontroversial

DEMOCRAZY.ID — Dinamika perpolitikan di lingkaran Istana kembali menjadi sorotan tajam setelah jurnalis senior Hersubeno Arief membongkar kembali rekaman masa lalu yang melibatkan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

Gestur tubuh sang menteri yang pernah kedapatan menunduk sangat dalam hingga nyaris mencium tangan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali diungkit ke permukaan.

Peristiwa kontroversial yang terjadi saat Sidang Kabinet Paripurna pada 23 Oktober 2024 silam itu mendadak relevan dibahas kembali menyusul kehebohan posisi duduk Gibran yang kini tidak lagi berada tepat di samping Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet terbaru.

“Tapi justru perhatian publik malah tertuju pada sikap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketika dia bersalaman dengan Gibran dengan kepala tertunduk nyaris mencium tangannya wakil presiden. Sementara ketika dia sebelumnya menyalami Presiden Prabowo Subianto itu dia hanya bersikap selayaknya saja,” ujar Hersu dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Rabu (22/7).

Sikap kontras yang ditunjukkan Bahlil saat memberikan gestur penghormatan kepada Prabowo dan Gibran kala itu langsung memantik spekulasi luas.

Publik menilai bahasa tubuh tersebut mencerminkan hierarki kesetiaan politik yang sesungguhnya di dalam kabinet, di mana garis komando emosional dan politis kerap kali melompati struktur formal kepemimpinan nasional.

Jejak Politik Bahlil dan Bayang-Bayang Kekuasaan Jokowi

Lebih lanjut, Hersu turut membedah latar belakang melesatnya karier politik Bahlil, mulai dari statusnya sebagai salah satu menteri kesayangan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) hingga manuvernya menduduki kursi Ketua Umum Partai Golkar.

Sebagaimana diketahui, Bahlil naik memimpin partai berlambang pohon beringin tersebut menggantikan Airlangga Hartarto yang secara mengejutkan mundur di tengah pusaran kasus ekspor CPO.

Melihat rekam jejak tersebut, pengamat menilai wajar jika gerak-gerik para menteri yang diidentifikasi sebagai “orang titipan” era sebelumnya kerap diteropong secara kritis.

Terlebih, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, konsolidasi kekuasaan sering kali diwarnai oleh faksi-faksi tersembunyi yang membawa kepentingan patronase politik lama.

“Ini kan Bahlil pada waktu itu naik menjadi Ketua Umum Golkar itu menggantikan Airlangga Hartarto yang dipaksa mundur karena dia tersandera kasus ekspor CPO. Ya, jadi kalau bosnya Bahlil itu adalah Joko Widodo c.q. Gibran, bukan Prabowo, ya kita bisa memakluminya begitu,” tandas Hersu.

Membaca Arah Angin Politik di Kabinet Merah Putih

Fenomena bahasa tubuh para pembantu presiden ini mempertegas bahwa konstelasi di internal kabinet tidak sekadar bersifat teknis administratif, melainkan sarat akan muatan psikologis dan afiliasi politik masa lalu.

Ketika posisi fisik pejabat negara di dalam sidang paripurna bergeser, narasi publik langsung bergerak liar menghubungkannya dengan peta kekuatan yang sedang bergeser.

Bagi para pengamat, gestur semacam ini menjadi indikator penting untuk membaca sejauh mana loyalitas para menteri terbelah di antara bayang-bayang rezim sebelumnya dan otoritas penuh Presiden yang sedang menjabat.

Di tengah berbagai persoalan strategis bangsa yang menanti penanganan nyata, intrik simbolik di ring satu kekuasaan ini dipastikan akan terus menjadi bahan bakar diskursus politik yang menarik untuk dicermati ke depan.

Artikel terkait lainnya