Oleh: Ustadz Nuim Hidayat
“Saya lagi mikir minta Pindad didesain mobil khusus untuk Presiden pakai kaca, yang ada kursi, tetapi kelihatan aku berdiri.“
“Di desa-desa tidak pakai dolar.“
“Hai antek-antek asing.“ (Prabowo)
Setelah satu setengah tahun Presiden Prabowo berkuasa, Indonesia tidak menunjukkan perubahan yang baik. Mata uang rupiah berada dalam krisis.
Satu dolar lebih dari 17.000 rupiah. Kemiskinan meningkat, pengangguran masih jutaan dan hutang luar negeri terus menekan.
Program MBG yang diandalkan Prabowo pun banyak kelemahan. Kelemahan utama adalah MBG yang tadinya diperuntukkan hanya untuk anak-anak orang miskin, kini banyak dinikmati anak-anak orang kaya.
Lembaga Celios memperkirakan bahwa bila MBG diberikan kepada semua anak tanpa seleksi ekonomi, maka sekitar 34,2% penerima berasal dari kelompok yang tidak menjadi sasaran utama (inclusion error). Dalam grafik mereka, kelompok ini terutama berasal dari desil pendapatan yang lebih tinggi.
Kehidupan demokrasi yang nyaris mati di pemerintahan Jokowi, kini memang lebih terbuka.
Tapi gaya militerisme masih menguat. Beberapa aktivis-aktivis yang kritis kepada pemerintah sering dikuntit, atau mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, seperti Andri Yunus misalnya.
Prabowo kini bukan hanya disorot pidato dan kebijakannya, kehidupan pribadinya pun kini mulai dipergunjingkan publik.
Tokoh reformasi Amien Rais dengan terbuka mengkritik perilaku seksual Prabowo dan Teddy yang dicurigai menyimpang.
Begitu juga tokoh oposan Sri Bintang Pamungkas mengkritik keras kehidupan pribadi Prabowo, yang bisa mendatangkan azab bagi bangsa ini.
Walhasil, Prabowo kini terbukti tidak bisa menjadi presiden teladan. Baik dalam ucapan, kebijakan maupun perilaku sehari-hari. Sehingga banyak masyarakat mengkritisi, bahkan mencemoohnya.
Kehidupan birokrasi yang boros dan kebijakan yang tidak cermat menjadikan ekonomi bangsa ini sampai saat ini tidak membaik.
Kesalahan memilih presiden harus ditanggung rakyat Indonesia minimal lima tahun lamanya.
Pilpres 2024 lalu, rakyat Indonesia sayangnya lebih banyak yang memilih Prabowo daripada Anies Baswedan.
Padahal ditinjau dari aspek keteladanan, Anies jauh lebih bisa menjadi teladan daripada Prabowo.
Baik dalam soal rumah tangga, kepemimpinan, kecerdasan, keagamaan, dan lain-lain.
Prabowo punya cacat dalam rumah tangga, kecerdasan, keagamaan dan lain-lain. Hingga kini presiden terus diolok-olok di medsos tentang statusnya yang jomblo.
Presiden juga dimaki karena kelemahan hitung matematikanya. Kehidupan spiritual presiden, juga menjadi pertanyaan banyak masyarakat.
Prabowo itu shalat lima waktu atau nggak sih. Gaya kepemimpinannya yang otoriter juga menjadi kritikan luas dari publik. Karena takut dimarahi, banyak anak buahnya yang laporannya asal bapak senang.
Semoga pilpres 2029 nanti, rakyat Indonesia tidak salah pilih lagi. Pilihlah presiden atau pemimpin yang bisa menjadi teladan.
Jangan pilih presiden yang memimpin rumah tangganya pun tidak becus.
Ingat prinsip manajemen: mereka yang sukses memimpin dalam kelompok kecil, akan sukses memimpin dalam kelompok besar. Wallahu azizun hakim. ***