Ahmad Ali Terima PSI Disebut Partai Liga Rendah: Kami Memang Belum Layak Jadi Partai!

DEMOCRAZY.ID – Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali merespons soal penilaian partai politik lain yang menyebut kalau PSI merupakan partai yang bertarung di liga rendah.

Menurut Ali, pernyataan tersebut tidak ada salahnya, dia mengakui kalau PSI saat ini memang bukan partai yang menjadi ancaman bagi partai besar lain.

“Memang kami partai liga rendah. Kami tahu diri betul. Jadi PSI ini bukan ancaman bagi partai-partai yang besar,” kata Ahmad Ali saat ditemui awak media di arena Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) DPW PSI Sulawesi Selatan di Ballroom Claro Hotel, Makassar Sulawesi Selatan, Rabu (28/1/2026).

Pernyataan itu disampaikan Ahmad Ali bukan tanpa dasar, dirinya menyebut kalau saat ini PSI memang sedang berjuang untuk merapikan struktur kepengurusan demi bisa lolos verifikasi sebagai peserta Pemilu 2029.

Hal itu menurut dia membuat PSI berbeda dengan partai besar lainnya, terutama yang sudah lolos di parlemen pada Pileg sebelumnya.

Sehingga, dalam selorohnya, Ahmad Ali bahkan menyatakan kalau PSI saat ini belum bisa dikatakan sepenuhnya sebagai partai politik.

“Kami tahu betul diri kami bahwa hari ini kami sedang berjuang untuk lolos sebagai peserta pemilu. Artinya kami ini belum layak jadi partai, karena kami belum jadi peserta pemilu,” ucap Ali.

“Kami ini layak disebut partai gagal karena dua kali tidak lolos pemilu,” ujar mantan Waketum DPP Partai NasDem.

Meski demikian, Ali menyatakan tekad kalau pihaknya akan mampu berbuat banyak pada Pemilu 2029 mendatang.

Kata dia, kondisi dan strategi PSI di dua pemilu lalu akan diubah, terlebih dengan komposisi pengurus PSI saat ini yang diyakini Ahmad Ali sudah siap untuk bersaing dengan partai politik lainnya.

Adapun kedua kader tersebut yakni I Wayan Suyasa dan I Komang Suarsana.

Suyasa adalah eks Ketua DPD II Golkar Badung, sementara Suarsana adalah pengurus Partai Golkar di Bali.

Sarmuji menegaskan bahwa dinamika keluar-masuk kader adalah bagian dari “hukum alam” politik, terutama di partai dengan tingkat kompetisi tinggi seperti Golkar.

“Itu sebenarnya hukum alam saja. Yang tidak kuat lagi bersaing di persaingan yang ketat akan mencari tempat yang persaingannya lebih rendah. Bertahan di Golkar mungkin merasa berat, lalu mencari tempat lain,” ujar Sarmuji, Minggu (25/1/2026).

Dia menegaskan, kompetisi di Golkar memang tidak mudah, apalagi banyak kader baru bermunculan yang menurutnya punya kualitas yang tidak kalah bagus.

Di sisi lain, Sarmuji justru menilai Golkar tetap menjadi magnet bagi kader dari partai lain.

“Kalau ditanya mengapa mereka masuk ke Golkar, karena ingin merasakan masuk ke liga utama dengan persaingan yang lebih tinggi,” katanya.

Meski demikian, Sarmuji menegaskan bahwa Golkar tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun.

“Tapi kalau ada yang memilih tempat lain karena tingkat persaingannya kurang, kan tidak bisa kami halangi,” pungkasnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya