DEMOCRAZY.ID – Guru Besar Universitas Airlangga, Prof Henri Subiakto, menyebut bahwa pemerintah Prabowo Subianto menerapkan strategi diskreditasi ala mantan Presiden AS Donald Trump.
Dikatakan Henri, Prabowo menggunakan pendekatan yang sama dengan Trump dalam membungkam kritik, yakni menuding media dan aktivis sebagai musuh negara.
Ia menyinggung dugaan permainan di balik aksi unjuk rasa 27 Agustus kemarin yang menjadikan rakyat sebagai kambing hitam.
“Jarang kebenaran itu terungkap kecuali ada media yang berkomitmen berani membongkar realitas di balik panggung. Itu yang nampaknya ingin diperankan media, Tempo,” ujar Henri, dikutip fajar.co.id, Minggu (6/9/2026).
“Namun bagi Prabowo sang penguasa, wartawan Tempo justru dituding sebagai ‘Londo Ireng’ atau ‘Antek Asing’,” tambahnya.
Prof Henri menekankan bahwa cap tersebut muncul sebagai bagian dari strategi diskreditasi yang sistematis dari pemerintahan Prabowo.
“Prabowo lagi berusaha memframing dirinya sebagai kepentingan negara yang sedang mewujudkan ‘Make Indonesia Great Again’,” tukasnya.
Ia membandingkan pendekatan ini dengan strategi yang digunakan Donald Trump di Amerika Serikat.
“Suatu strategi yang nyontoh cara Trump di AS dengan MAGA. Prabowo dan Trump sama-sama menuding pengritiknya dengan konsep Discredit Strategy,” jelasnya.
Henri kemudian menuturkan bahwa Trump menuding media dan pengritiknya sebagai fake news dan enemy of the people.
“Mendeskreditkan para aktivis dan media sebagai musuh, yang seolah anti kebesaran negara karena kepentingan asing. Trump menuding media dan pengritiknya sebagai fake news dan enemy of the people,” imbuhnya.
Sementara Prabowo menggunakan istilah ‘Antek Asing’ dan ‘Londo Ireng’ untuk merendahkan para pengritik.
“Sedangkan Prabowo sama saja melakukan hal yang mirip-mirip juga. Dengan istilah Antek Asing, dan Londo ireng. Itulah Discredit Strategy yang dipakai dengan menunjukkan sebutan buruk sebagai traitors, pengkhianat, terhadap para pengritik seolah melawan kepentingan negara,” tegasnya.
Henri kemudian melempar pertanyaan kepada publik tentang siapa yang lebih dipercaya rakyat, Prabowo dan pemerintah sebagai penguasa, atau suara media dan para aktivis.
“Persoalannya siapa yang lebih dipercaya rakyat. Prabowo dan Pemerintah sebagai Penguasa? Atau suara media seperti Tempo dan para aktivis?” kuncinya.