Sepakan Kasus Kematian Sutrimo Makin Gelap, Teka-Teki 4 Pengantar Misterius dan Rekaman CCTV Bikin Publik Curiga!

DEMOCRAZY.ID – Sepekan setelah tewasnya Sutrimo, penyebab kematiannya masih belum terungkap.

Alih-alih menemui titik terang, teka-teki justru bertambah.

Rekaman kamera pengawas (CCTV) di Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring menunjukkan Sutrimo diantar empat orang yang mengaku sebagai kerabat.

Tak lama setelah dinyatakan meninggal dunia, jasadnya langsung dibawa ke Banyumas, Jawa Tengah, untuk diserahkan kepada keluarga.

Di sisi lain, keluarga menyatakan telah mengikhlaskan kepergian Sutrimo dan tidak berencana melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian.

Diantar Empat Orang Tak Dikenal

Berdasarkan rekaman CCTV Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, ambulans yang membawa Sutrimo tiba sekitar pukul 09.09 WIB pada Kamis (23/7/2026).

Tubuh Sutrimo diturunkan melalui pintu belakang ambulans menggunakan brankar dengan kondisi dibungkus selimut biru.

Tim medis kemudian melakukan pemeriksaan. Namun, saat tiba di rumah sakit, Sutrimo sudah tidak bernapas.

“Pasien atas nama Sutrimo dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring menggunakan ambulans luar. Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh tim medis di UGD, pasien dinyatakan telah meninggal dunia sebelum tiba di rumah sakit,” jelas Divisi Hukum RS Muhammadiyah Taman Puring, dr Ahmad, saat ditemui di lokasi, Senin (27/7/2026).

Setidaknya ada empat orang yang mengantar Sutrimo ke rumah sakit. Sesuai prosedur, mereka diminta mengisi berita acara.

Salah seorang di antaranya, Febrio Adiono, tercatat sebagai penanggung jawab pasien. Pihak rumah sakit juga mendata ambulans yang digunakan.

Namun, informasi yang diberikan para pengantar sangat terbatas.

“Mereka kami tanya pun tidak memberikan informasi yang jelas, hanya mengantarkan dan isi berita acara atas nama Febrio Adiono,” kata Ahmad.

Dokter Tak Melihat Busa

Kasus kematian Sutrimo pertama kali ramai setelah beredar pesan berantai di WhatsApp yang menyebutkan bahwa ia merupakan kepala rumah tangga (karumga) di rumah dinas mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah.

Dalam pesan tersebut juga disebutkan bahwa Sutrimo ditemukan meninggal dengan busa keluar dari mulut dan hidung.

Foto yang beredar memperlihatkan seorang pria dengan busa putih di wajahnya dan tubuh diselimuti kain biru.

Namun, Ahmad mengatakan tim medis tidak melihat adanya busa saat memeriksa Sutrimo.

Menurut dia, saat tiba di rumah sakit tubuh Sutrimo masih terbungkus rapat dengan selimut biru sehingga kondisi wajahnya tidak dapat dipastikan saat pertama kali datang.

“Nah, sampai di kami, busa itu kami tidak melihat. Ya, kami enggak tahu itu ya,” ujar Ahmad.

Selain itu, dokter juga tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada bagian luar tubuh Sutrimo.

Karena pasien telah dinyatakan meninggal dunia sebelum tiba di rumah sakit, tim medis tidak melakukan tindakan medis lanjutan, termasuk autopsi.

Terlebih, rumah sakit tersebut tidak memiliki fasilitas autopsi.

“Jadi tim medis kami sudah melakukan pemeriksaan EKG dan dinyatakan memang hasilnya flat, datar. Jadi ya memang sudah meninggal pada saat pasien sudah datang. Dan tidak dilakukan tindakan medis apa pun karena sudah meninggal,” jelas Ahmad.

Setelah proses administrasi selesai, jasad Sutrimo dibersihkan dan selimut biru yang membungkus tubuhnya dilepas.

Sebelum pukul 12.00 WIB, jenazah diserahkan kembali kepada penanggung jawab, Febrio Adiono, yang menyampaikan bahwa jenazah akan dibawa ke Banyumas.

“Iya, diserahkan kepada mereka. Mereka meminta surat kematian, langsung dibawa luar kota ya, Banyumas,” kata Ahmad.

Polisi Periksa CCTV dan Barang Bukti

Tiga hari kemudian, kabar kematian Sutrimo mulai beredar luas di media sosial.

Penyidik dari Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Selatan kemudian mendatangi Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring.

Menurut Ahmad, rumah sakit menerima Sutrimo sesuai prosedur, mulai dari pencatatan identitas pasien, penanggung jawab, hingga ambulans yang mengantarnya.

Pihak rumah sakit juga menyerahkan rekaman CCTV yang memperlihatkan kedatangan hingga keberangkatan jenazah bersama para pengantarnya kepada penyidik.

“Itu diminta oleh Polda Metro Jaya, yang kedua dari Polres Jakarta Selatan. Jadi kami hanya bisa memberikan yang di tanggal 23 pada saat kejadian,” jelas Ahmad.

Selain memeriksa CCTV, polisi juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Mordent Aesthetic Clinic, Jalan Kramat Pela VII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lokasi tempat Sutrimo ditemukan.

Dalam olah TKP pertama, polisi menyita sebuah bantal dan sepeda motor sebagai barang bukti.

Keesokan harinya, penyidik kembali mendatangi lokasi bersama tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.

Kali ini, karpet di lokasi turut dibawa ke laboratorium forensik.

Kasubnit Resmob Polres Metro Jakarta Selatan Ipda Robby Pasha mengatakan, dari hasil pemeriksaan awal, penyidik tidak menemukan adanya racun di lokasi.

“Enggak, enggak, enggak (ditemukan racun),” kata Robby kepada wartawan di lokasi, Senin.

Keluarga Mengaku Ikhlas

Di Banyumas, Jawa Tengah, tetangga Sutrimo mengatakan jenazah tiba di rumah duka pada Kamis malam.

Tak lama kemudian, jenazah langsung dimakamkan pada dini hari.

“Jenazah sampai sini sekitar pukul 22.00 WIB, kemudian dimakamkan sekitar pukul 00.00 WIB,” kata seorang tetangga yang turut mengantar jenazah ke pemakaman saat ditemui di kediaman Sutrimo, Selasa (28/7/2026).

Sementara itu, keluarga memilih tidak banyak memberikan keterangan.

Salah satu anggota keluarga, Ardi, mengatakan mereka telah menerima kepergian Sutrimo.

“Mohon maaf ibu (almarhum Sutrimo) sedang sakit, sekarang kondisinya lagi tenang. Mohon maaf kami tidak bisa menerima (kedatangan wartawan), keluarga sudah mengikhlaskan,” kata Ardi.

Ia juga menegaskan bahwa keluarga tidak berencana membuat laporan polisi meski sebelumnya ada imbauan agar kasus tersebut dilaporkan untuk kepentingan penyelidikan.

“Enggak, enggak mau (lapor). Sudah ikhlas lahir batin pokoknya,” ujar Ardi.

Tetangga Sebut Sutrimo Bekerja untuk Bos Kejaksaan

Seorang tetangga lainnya mengatakan, Sutrimo sempat pulang ke kampung halaman sekitar sepekan sebelum ditemukan meninggal dunia.

“Seminggu sebelum kejadian sempat pulang, tapi enggak tahu berangkatnya lagi,” kata salah seorang tetangga.

Ia baru mengetahui Sutrimo meninggal setelah kabar tersebut beredar.

Menurut penuturannya, Sutrimo sudah lama merantau dan bekerja di Jakarta.

Meski tidak mengetahui secara pasti pekerjaannya, ia menyebut Sutrimo bekerja di rumah seorang petinggi Kejaksaan.

“Kerja ikut bos Kejaksaan, tunggu rumah. Dia di perantauan dari dulu,” kata tetangga tersebut.

Ia mengatakan, Sutrimo telah bekerja di sana sejak sebelum menikah hingga akhirnya bercerai dengan istrinya.

“Sudah lama banget, sejak sebelum menikah. Tapi sekarang sudah cerai dengan istrinya,” kata dia.

Tetangga itu juga mengaku pernah diajak Sutrimo bekerja di Jakarta, namun memilih menolak.

“Sempat ditawari ikut kerja juga, tapi saya enggak mau, mending di rumah saja,” katanya.

Menurut dia, sejak merantau Sutrimo memang jarang pulang ke kampung halaman dan dikenal sebagai pribadi yang pendiam.

Artikel terkait lainnya