

DEMOCRAZY.ID – Presiden Prabowo Subianto sedang disorot tajam.
Bukan karena kebijakannya, melainkan karena cara pandangnya terhadap kondisi negara yang dianggap tidak lagi berpijak pada realitas.
Analis politik dari Exposit Strategic, Arif Susanto, bahkan secara terbuka menyebut orang nomor satu di Indonesia itu mengalami “miopi politik” atau rabun jauh politik.
Pernyataan menohok ini dilontarkan Arif dalam diskusi media bertajuk “Drama Polisi VS Kejaksaan: Saling Bongkar atau Saling Ngunci (Kompromi)?” di kantor Formappi, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).
Menurut Arif, istilah “miopi politik” disematkan karena Prabowo terkesan hanya melihat apa yang ingin ia lihat.
Di atas podium, Prabowo kerap melontarkan narasi yang sangat kontras dengan situasi panas di lapangan—seolah-olah Indonesia tidak sedang dirundung skandal korupsi besar.
“Yang kira-kira kalau ngomong di atas podium itu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Saya sering mengatakan bahwa Prabowo itu mengalami miopia politik,” ungkap Arif di depan para peserta diskusi.
Bagi Arif, rabun jauh politik ini adalah musibah nasional.
Saat rakyat melihat banyaknya “bom waktu” korupsi di instansi penegak hukum, sang presiden justru melihat dunia dengan lensa yang berbeda.
“Gagal untuk melihat baik yang dekat maupun yang jauh. Yang bisa dilihat satu-satunya oleh Prabowo adalah dirinya sendiri. Everything looks perfect,” sindir Arif dengan nada pedas.
Lantas, mengapa Presiden Prabowo bisa sebegitu optimis padahal negara sedang guncang?
Arif membeberkan fakta yang tak kalah miris: masalah utamanya bukan pada kemampuan Prabowo, melainkan pada siapa saja yang ia kumpulkan di sekelilingnya.
Presiden dianggap telah menjebak dirinya sendiri dengan memilih pembantu-pembantu yang justru menjadi “filter” informasi buruk.
Alih-alih mendapatkan masukan jujur, Prabowo justru dikelilingi oleh pejabat yang hanya tahu satu kata: Siap.
“Segalanya tampak sempurna di mata Prabowo kenapa? Karena dia mengangkat pejabat-pejabat yang hanya bisa berkata semuanya baik-baik saja,” tegas Arif.
Fenomena ini memicu kekhawatiran serius. Jika sang pemimpin terus-menerus disuapi narasi “semua aman” sementara di belakang layar terjadi drama saling sandera antar-institusi penegak hukum, maka negara dikhawatirkan akan kehilangan arah.
Kritik Arif ini menjadi alarm bagi Istana. Apakah narasi everything looks perfect itu akan terus dipertahankan sampai skandal-skandal yang sedang meledak ini benar-benar membakar kredibilitas pemerintah?
Publik kini menanti, apakah Presiden akan berani membuka kaca mata kudanya dan melihat realitas yang sebenarnya, atau justru akan terus terjebak dalam “miopi politik” yang memanjakan kenyamanan kabinetnya sendiri?