DEMOCRAZY.ID – Momen keakraban Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam peringatan Hari Lahir Pancasila kembali memunculkan spekulasi politik.
Hubungan hangat kedua tokoh tersebut dinilai berpotensi memengaruhi peta kekuatan menuju Pemilu 2029.
Pak Prabowo ingin ibu Megawati berjalan duluan, tapi ibu Megawati ingin pak Prabowo yg berjalan duluan.
Akhirnya ibu Mega gandeng tangan pak Prabowo unk jalan bersama.
Adem lihatnya, tapi panas bagi geng Solo dan ternaknya.🤭😂Momen Hangat, ibu Megawati gandeng presiden Prabowo… pic.twitter.com/fdjQaFfSlT
— Chusnul ch💞timah (@ch_chotimah2) June 1, 2026
Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menilai kedekatan Prabowo dan Megawati bukan fenomena baru.
Menurutnya, hubungan keduanya telah terjalin lama dan memiliki akar politik yang kuat.
“Prabowo akrab dengan Megawati sebetulnya sesuatu yang biasa karena memang Prabowo sama Megawati ini punya hubungan lama yang agak mesra sejak tahun 2004,” kata Zuly, Selasa (2/6/2026).
Hubungan itu, kata Zuly, tidak hanya dibangun oleh kedekatan personal, tetapi juga oleh sejarah politik yang panjang.
Prabowo dan Megawati pernah berada dalam satu tiket Pilpres 2009.
Di luar itu, keduanya juga berasal dari keluarga yang memiliki peran penting dalam perjalanan politik nasional.
Karena itulah, Zuly melihat komunikasi yang terus terjaga antara keduanya berpotensi berkembang menjadi kerja sama politik yang lebih besar.
“Jika dua orang ini memiliki hubungan dan kemudian menjaga hubungannya dengan baik, tentu bukan tidak mungkin dua-duanya bisa melakukan koalisi pada 2029,” ungkapnya.
Menurut Zuly, peluang tersebut semakin menarik karena Gerindra dan PDIP merupakan dua partai dengan basis dukungan besar di tingkat nasional.
Jika hubungan politik kedua partai terus menghangat, bukan tidak mungkin keduanya membangun poros bersama menjelang Pilpres 2029.
Ia bahkan memperkirakan kemesraan politik yang terus terawat dapat berujung pada kesepakatan mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden secara bersama-sama.
“Tapi seandainya betul-betul terjadi nanti kemesraan ini sampai 2029, maka saya duga memang akan ada dinamika politik yang cukup kuat, yaitu Prabowo bersama Megawati bersama-sama mengusung calon capres dan cawapres,” tuturnya.
Dalam skenario tersebut, Zuly menilai PDIP berpotensi menjadi mitra politik paling strategis bagi Gerindra.
Kekuatan elektoral kedua partai dinilai dapat menjadi magnet yang mendorong partai-partai lain bergabung dalam koalisi yang sama.
Meski begitu, ia menegaskan seluruh kemungkinan tersebut masih sebatas prediksi politik.
Dinamika menjelang 2029 masih sangat panjang dan akan ditentukan oleh banyak faktor, termasuk keputusan internal partai dan sikap politik Megawati sebagai pemegang kendali utama di PDIP.
“Ya kita akan lihat saja. Tetapi paling tidak, kalau semakin intensif, maka kemungkinan besar untuk saling mengusung dugaan saya ada. Cuma siapa orangnya, itu yang belum bisa dipastikan,” pungkasnya.
Sumber: Suara