

DEMOCRAZY.ID – Analis Kebijakan Publik, Dr Faisal Lohy menimpali klaim Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, bahwa ekonomi baik.
Sekalipun rupiah hari ini tembus Rp18.091 per dolar Amerika Serikat.
“Udah lah pak. Berhenti tipu-tipu,” kata Faisal dikutip dari unggahannya di Facebook, Selasa (14/7/2026).
Faisal memaparkan data-data. Mulai dari neraca dagang hingga pembayaran.
“Neraca dagang defisit US$ 1,61 miliar, pendapatan primer defisit US$ 7,15 miliar, transaksi berjalan defisit US$ 4,01 miliar, Transaksi modal finansial defisit US$ 4,1 miliar, neraca pembayaran defisit US$ 9,1 miliar,” paparnya.
Menurutnya, semua data itu menunjukkan transaksi eksternal tak berjalan baik. Tidak ada sama sekali yang surplus.
“Seluruh transaksi eksternal kita hancur berantakan pak. Gak ada satupun yang surplus. Menunjukkan kemampuan kita cetak vales, cetak devisa lumpuh pak. Negatif,” terangnya.
Menurutnya, lebih banyak devisa keluar dari pada masuk. Itulah kenapa rupiah terus melemah.
“Makanya, rupiah turun terus. Imported inflation mendorong Cost push inflation, memukul daya beli rakyat, laju pertumbuhan pajak turun 9%, menunjukkan transaksi kena pajak turun,” imbuhnya.
Apalagi, kata dia, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) defisit mencapai Rp190 triliun. Sehingga mesti melakukan utang baru.
Masalahnya, APBN tersebut tidak digunakan untuk manufaktur. Tapi program yang bersifat konsumtif, dan koruptif.
Dia memberi contoh seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan program lainnya.
“Utang masuk APBN bukan dipakai buat stimulus daya beli rakyat agar manufaktur keluar dari zona kontraksi, malah 70% lebih digunakan untuk belanja konsumtif-koruptif seperti MBG, KDMP, dll,” pungkas Faisal.
👇👇
Pernyataan Airlangga disampaikan kepada jurnalis di Kantor Kemenko Perekomian di Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026). Saat itu, rupiah sudah tembus di angka psikologis Rp18.000.
“Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi kemarin masih baik di 5,61%. Kemudian, neraca perdagangan year to date juga masih positif,“ klaimnya.
Dia mengakui memang ada defisit neraca di bulan Juni. Tapi perlahan membaik.
Hal tersebut, menurutnya dipengaruhi lonjakan impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Dia membantah penyebabnya karena daya saing ekspor.
“Kemarin satu bulan memang negatif karena memang dari segi impor BBM itu memang harganya spike, harganya naik,” terangnya.
Bahkan, dia menyebut ekspor sejumlah komoditas mengalami perubahan drastis.
Seperti sawit, batu bara, dan ferro alloy.
“Ini terus kita jaga dan juga pemerintah mendorong beberapa insentif termasuk insentif untuk industri chemicals di mana impor bahan baku plastik akan dinolkan dan ini PMK-nya sedang dibuat,” ucapnya.