Geger Wacana Impor Profesor Asing, Prof Juwana Semprot Habis-Habisan Penguasa: Jangan Selalu Anggap Luar Negeri Lebih Hebat!

DEMOCRAZY.IDGuru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), Prof Hikmahanto Juwana, turut menanggapi wacana Universitas Republik Indonesia (URI) yang disebut akan melibatkan profesor dari luar negeri sebagai tenaga pengajar.

Dikatakan Prof. Juwana, gagasan tersebut perlu dikaji secara realistis.

Ia mempertanyakan apakah akademisi dari luar negeri benar-benar bersedia mengajar di Indonesia dengan skema dan tingkat kesejahteraan yang berlaku saat ini.

Pertanyakan Ketertarikan Profesor Asing

Prof. Juwana mengatakan bahwa tidak mudah menarik profesor dari luar negeri untuk mengajar di Indonesia.

“Lalu kemudian nanti, oh iya nanti kami kirim profesor dari luar negeri,” ujar Prof. Juwana, Kamis (30/7/2026).

“Emangnya profesor dari luar negeri terus kalau misalnya di Indonesia ini dengan gaji seperti kami ini mereka akan betah?” tambahnya.

Tolak Anggapan Dosen Asing Harus Diistimewakan

Ia juga mengingatkan agar tidak muncul perlakuan berbeda terhadap dosen asing, terutama dalam hal remunerasi maupun fasilitas.

“Tapi jangan kemudian dibilang kalau Londo kasih remunerasi yang lebih bagus. Tidak,” ucapnya.

Prof. Juwana menegaskan dirinya tidak ingin akademisi Indonesia diposisikan lebih rendah dibanding tenaga pengajar dari luar negeri.

“Saya tidak mau kalah sama mereka-mereka yang Londo-Londo itu,” Prof. Juwana menuturkan.

“Saya ingin didudukan sama dengan mereka. Ini semua para dosen-dosen ini kita mau seperti itu,” tambahnya.

Baginya, kualitas dosen Indonesia tidak semestinya dipandang lebih rendah hanya karena berasal dari dalam negeri.

“Masa kemudian kita harus memfasilitasi, oh iya kalau Anda dari luar negeri Anda bagus. Tidak ada kayak begitu,” imbuhnya.

Saatnya Negara-Negara Selatan Bangkit

Lebih lanjut, Prof. Juwana bilang bahwa paradigma yang selalu menganggap akademisi luar negeri lebih unggul sudah saatnya diubah.

“Ini sekarang adalah kebangkitan dari negara-negara South. Dari Afrika, dari Asia,” tandasnya.

Karena itu, ia mengajak semua pihak agar tidak lagi memandang segala sesuatu dari luar negeri sebagai yang paling baik.

“Jangan kemudian kerangka berpikir kita selalu mengatakan dari luar negeri itu banget,” kuncinya.

Seperti diketahui, Universitas Republik Indonesia (URI) memang merencanakan pelibatan tenaga pengajar internasional atau profesor asing.

Kebijakan ini menuai beragam tanggapan dari kalangan akademisi dalam negeri.

Artikel terkait lainnya