

DEMOCRAZY.ID — Panggung politik tanah air kembali diwarnai kritik pedas dari pengamat politik kenamaan, Rocky Gerung, yang menyoroti manuver lanjutan mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Safari politik bertubi-tubi yang dilakoni Jokowi demi mendongkrak Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai sebagai sebuah kesalahan langkah fatal yang mereduksi citranya sendiri di mata publik.
Menurut Rocky, eks kepala negara tersebut seharusnya sudah menanggalkan syahwat politik praktis usai lengser dari singgasana kekuasaan.
Masyarakat luas, kata Rocky, menyimpan ekspektasi moral yang jauh lebih luhur agar seorang mantan presiden mau mengambil posisi sebagai negarawan sejati yang berdiri di atas semua golongan, alih-alih tetap tampil beringas layaknya politisi partisan yang haus panggung.
“Jokowi itu masih menganggap dirinya presiden atau politisi aktif. Padahal masyarakat berharap dia sudah di tingkat ‘bertapa’ atau menjadi figur moral,” kritik tajam Rocky Gerung saat tampil dalam kanal YouTube Hendri Satrio Official, dikutip Kamis (6/8/2026).
Idealnya, seorang figur yang telah purna tugas dari pucuk pimpinan tertinggi negara tampil sebagai penyejuk bangsa, memberikan teladan etik, dan menyuarakan oase kejernihan moral di tengah carut-marut persoalan nasional, bukan justru sibuk mengorkestrasi kekuatan partai titisan dinasti keluarga.
Kritik tajam tersebut dilayangkan seiring dengan masifnya rangkaian safari politik yang dilakoni Jokowi demi meneguhkan cengkeraman politik PSI.
Terbaru, sang mantan presiden tercatat melakukan lawatan intensif di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terhitung sejak 31 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Salah satu agenda yang paling menyita sorotan publik dan menuai perdebatan tajam di ruang digital adalah momen ketika Jokowi secara simbolis dinobatkan sebagai Sesepuh Raja-Raja Timor di tengah helatan Festival dan Karnaval Gajah di Kota Kupang.
Di sela-sela safari penuh simbol kekuasaan tersebut, Jokowi juga sempat melontarkan instruksi khusus kepada para elite dan kader PSI.
Ia mengingatkan pentingnya strategi “napak tanah” agar partai tersebut tidak kehilangan legitimasi di akar rumput menyongsong Pemilu 2029.
“Jangan sampai kita kehilangan daya pijak, yaitu dekat dengan kehidupan sehari-hari rakyat kita. Kita harus hadir secara konsisten. PSI harus mampu menghadirkan manfaat yang nyata yang bisa langsung dirasakan oleh rakyat,” seru Jokowi di hadapan para kader.
Kendati dibungkus dengan pesan-pesan konsolidasi kerakyatan, manuver tiada henti ini justru dibaca para pengamat sebagai kepanikan tersendiri di lingkaran Istana lama, tatkala bayang-bayang penurunan elektabilitas dan kian derasnya gelombang resistensi publik memaksa sang mantan kepala negara turun gunung secara langsung demi menyelamatkan masa depan politik keluarganya.