DEMOCRAZY.ID – Kalimat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kepada korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, memunculkan tafsir politik baru.
Saat menemui siswa dan orang tua korban, Gibran meminta anak-anak untuk sementara membawa bekal dari rumah dan tidak mengonsumsi makanan dari program MBG.
“Bawa bekel dari rumah, MBG jangan dimakan,” kata Gibran saat berdialog dengan orang tua siswa di SDN Pasusukan, Kecamatan Bawang, Batang, Senin, 28 September 2026.
Ucapan itu disampaikan Gibran ketika meninjau langsung penanganan korban di sejumlah lokasi, yakni RSUD Limpung, Puskesmas Bawang, dan SDN Pasusukan.
Ia juga meminta agar siswa kembali bersekolah setelah kondisi kesehatannya pulih.
“Bawa bekel dari rumah. Oke? MBG jangan dimakan… ” kata gibran
Jadi wapres itu posisinya oposisi? pic.twitter.com/akBoygZ9Uz
— Eko cahyo Putro (@Sammi86Pilang) September 29, 2026
Bagi pengamat politik Ray Rangkuti, pernyataan tersebut tidak semata-mata dapat dibaca sebagai respons terhadap persoalan kesehatan.
Ia melihat sikap Gibran itu sebagai bagian dari perubahan posisi politik keluarga Presiden ke-7 Joko Widodo terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Saya sih sudah berulang kali mengatakan hubungan antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo itu retak, gitu lho,” kata Ray di Jakarta, dikutip Kamis, 1 Oktober 2026.
Ray menilai Gibran sedang memperlihatkan sikap yang berbeda dari kesan pemerintah dalam merespons rangkaian kasus dugaan keracunan MBG.
Menurut dia, pemerintah selama ini dinilai cenderung defensif ketika menghadapi persoalan tersebut.
Sementara Gibran, kata Ray, justru datang menemui korban, mendengar keluhan keluarga, dan secara langsung meminta agar anak-anak korban tidak mengonsumsi MBG untuk sementara.
“Kalau pemerintah kita ini kan berkesan denial ya, terhadap korban-korban keracunan ini. Menutupinya tidak mungkin, tetapi mau mencoba bahwa tidak ada masalah lah, kira-kira gitu. Nah, di posisi yang berbeda dilakukan oleh Gibran,” ujar Ray.
Karena itu, Ray membaca sikap Gibran sebagai upaya menunjukkan empati kepada masyarakat yang terdampak.
“Artinya kan Gibran itu mau menunjukkan perasaan yang sama dengan yang dihinggapi oleh banyak orang hari ini,” katanya.
Gibran dan pesan berbedaRay juga menyoroti penampilan Gibran ketika berada di Batang.
Menurut dia, pakaian hitam yang dikenakan Gibran menjadi simbol yang berbeda dari citra Presiden Prabowo Subianto yang kerap tampil dengan pakaian berwarna putih.
“Ya itulah lanjutan yang saya sebut berpisah. Karena intinya sekarang harus dibuat figur yang berbeda dengan Pak Prabowo,” ujar Ray.
“Kalau Pak Prabowo putih, dia hitam,” katanya.
Namun, tafsir politik tersebut tidak mengubah fakta bahwa kunjungan Gibran ke Batang secara resmi berfokus pada penanganan korban dan percepatan investigasi dugaan keracunan MBG.
Dalam kunjungan itu, Gibran meminta pemerintah memastikan korban mendapatkan penanganan kesehatan dan keluarga memperoleh kepastian mengenai penyebab kejadian.
“Hari ini saya langsung datang untuk memastikan korban tertangani dengan baik, keluarga mendapat kepastian, investigasi dituntaskan, dan pengawasan diperkuat,” kata Gibran.
Ia juga meminta hasil investigasi disampaikan kepada keluarga korban secara terbuka.
“Proses investigasi sedang berjalan, tapi saya pastikan dilakukan dengan cepat dan hasil investigasi akan diinformasikan kepada Bapak-Ibu secara terbuka dan transparan. Kejadian ini tidak boleh berulang,” ujar Gibran.
Kasus di Batang terjadi setelah penerima manfaat MBG mengalami gangguan kesehatan.
Penanganan dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Limpung dan Puskesmas Bawang.
Pemprov Jawa Tengah mencatat masih ada delapan pasien yang dirawat di Puskesmas Bawang ketika Gibran melakukan peninjauan pada 28 September.
Mereka terdiri atas empat orang dewasa dan empat pelajar.
Kasus Batang menambah panjang daftar persoalan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.
Data Badan Gizi Nasional yang dikutip sejumlah laporan menyebut 5.482 orang terdampak dalam 71 kejadian pada periode 22 Juli hingga awal September 2026.
Angka tersebut menjadi salah satu latar mengapa penanganan dan pengawasan program kembali mendapat sorotan.
Di tengah sorotan tersebut, ucapan Gibran tentang bekal dari rumah menjadi bagian yang paling menonjol dari kunjungannya ke Batang.
Secara langsung, pesan itu ditujukan kepada keluarga korban untuk menghindari menu MBG selama masa pemulihan.
Namun dalam arena politik, Ray Rangkuti membacanya lebih jauh: sebagai tanda bahwa Gibran mulai memperlihatkan posisi yang berbeda dari Prabowo.
Tafsir itu masih merupakan analisis politik.
Tidak ada pernyataan langsung dari Gibran dalam kunjungan tersebut yang menyebut adanya keretakan hubungan dengan Prabowo maupun Jokowi dengan Prabowo.
Yang disampaikan Gibran secara terbuka adalah permintaan agar korban ditangani, investigasi dipercepat, dan hasilnya disampaikan secara transparan kepada keluarga.