DEMOCRAZY.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut ada pakar yang “saking pintarnya jadi goblok” terus menuai sorotan.
Pengamat politik dan kebangsaan M Rizal Fadillah menilai pernyataan tersebut menunjukkan kerasnya respons Presiden terhadap kelompok intelektual yang mengkritik kebijakan pemerintah.
Pernyataan Prabowo itu disampaikan saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (18/9/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung sejumlah pihak yang menurutnya menggunakan kepakaran untuk menyampaikan tudingan yang ia kategorikan sebagai fitnah.
Menurut Rizal, setelah sebelumnya Presiden banyak berbicara mengenai dirinya dan rakyat, kali ini giliran para pakar yang menjadi sasaran kritik.
“Setelah berapi-api pidato menyatakan saya-saya dan rakyat-rakyat, akhirnya sampai juga pada pakar-pakar. Ujungnya kata Prabowo, saking pintarnya pakar-pakar itu jadi goblok,” kata Rizal dalam tulisannya, Selasa (22/9/2026).
Rizal menilai pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai respons terhadap kalangan yang selama ini memberikan kritik terhadap berbagai program pemerintah.
“Hal itu tentu mengarah pada pengeritik program-programnya. Begitulah jika Prabowo pidato tanpa teks mesti ada saja slip yang bukan keseleo, tapi konsekuensi dari emosi yang membakar lidahnya sendiri,” ujarnya.
Dalam pemberitaan mengenai pidato tersebut, Prabowo memang mengatakan, “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok.”
Setelah itu, Presiden mengaitkannya dengan sejumlah pakar yang menurutnya telah melontarkan fitnah.
Rizal mempertanyakan secara spesifik pihak yang dimaksud Presiden ketika berbicara mengenai fitnah tersebut.
“Pidato dalam acara Harlah PAN ke-28 di JICC Jakarta, 18 September 2026 itu memang menyinggung sikap kritis kaum intelektual yang menurutnya masuk ke ruang fitnah. Namun tidak jelas fitnah mana dan bagaimana yang dikaitkan kritik programnya itu,” katanya.
Ia kemudian menyindir gaya komunikasi politik Presiden yang menurutnya kerap mendapatkan respons meriah dari massa.
“Menjadi semakin banyak bukti jika pidato tanpa teks Prabowo sering terpancing oleh tepuk tangan audiens dan celetukan responsif khas kumpulan massa,” ujar Rizal.
Rizal bahkan membayangkan apabila para pakar yang menjadi sasaran pernyataan Prabowo hadir langsung dalam acara tersebut.
“Andai saja ada pakar-pakar atau kaum intelektual yang dimaksud Prabowo hadir dalam acara tersebut mungkin juga sambil ikut tertawa mereka menyatakan ini Presiden saking gobloknya kok jadi tolol,” katanya.
Menurut Rizal, apabila istilah kasar dipertukarkan dalam ruang politik, maka perdebatan akhirnya justru bergeser dari substansi kebijakan ke persoalan gaya bahasa.
“Diksi kasar berbalas kasar, maklum pakar-pakar dan presiden goblok,” tulisnya.
Rizal juga membawa sejumlah pernyataan dan kontroversi sebelumnya yang menurutnya menjadi bahan sindiran publik terhadap Presiden.
Ia menyebut adanya pembicaraan netizen mengenai kemampuan berhitung Prabowo serta berbagai angka yang pernah muncul dalam pernyataan pemerintah.
“Netizen mengingatkan kepakaran Prabowo yang jago hitung 10+6=17 dan upah mengupas bawang 700 ribu per kilo. Ada juga laporan kerugian bangsa 100 triliun per tahun, jadi lima tahun itu 1.000 triliun,” ujarnya.
Lebih jauh, Rizal mengaitkan kebiasaan Presiden menggunakan kata “saya” dengan istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD).
“Pidato Prabowo selalu bicara ‘saya’ adalah gambaran dari NPD,” katanya.
Namun, pernyataan tersebut merupakan penilaian Rizal, bukan diagnosis medis.
Ia kemudian menjelaskan pandangannya bahwa NPD, menurut pemahamannya, berkaitan dengan kecenderungan seseorang merasa dirinya hebat dan sulit mengakui kesalahan.
“Narcissistic Personality Disorder adalah penyakit berbahaya karena selalu melempar kesalahan pada orang lain, sementara diri tidak pernah salah, hebat, heroik, dan paling tahu segalanya,” ujarnya.
Atas dasar itu, Rizal bahkan mengusulkan agar Presiden menjalani pemeriksaan medis terkait stabilitas emosi dan aspek kejiwaan.
Ia mengatakan masyarakat perlu mendapatkan keyakinan bahwa pemegang jabatan kepala negara berada dalam kondisi yang baik untuk menjalankan tugasnya.
“Rakyat harus yakin memiliki Kepala Negara yang sehat intelektual, mental, dan moral,” kata Rizal.
Rizal kemudian menyinggung suasana ketika dalam pidato tersebut muncul dukungan agar Prabowo kembali menjadi Presiden pada 2029.
Ia menghubungkannya dengan sebuah lagu dangdut yang dinyanyikan anak MBG berseragam sekolah.
Menurut Rizal, lagu tersebut dapat dibaca sebagai parodi atau sindiran terhadap wacana keberlanjutan kekuasaan hingga periode berikutnya.
“Sadarkah Pak Presiden ada sindiran atau parodi saat mendengar pidato Prabowo yang diminta untuk menjadi Presiden kembali tahun 2029,” ujarnya.
Rizal kemudian mengutip bagian lagu yang berbunyi, “Jangan, jangan, jangan lagi. Sudah, sudah, sudah tak mau lagi.”
Di bagian akhir tulisannya, Rizal kembali menggunakan gaya satire untuk menyindir perjalanan pemerintahan Prabowo.
“Sudahlah Pak Prabowo, moga salah hitung 1+1=5. Jabatan satu tahun tambah satu tahun jadi lima tahun. Maka selesailah pada Oktober besok,” tulisnya.
Ia juga menyindir wacana dua periode kepemimpinan.
“Weleh boro-boro dua periode, Pak. Satu periode saja memimpin bangsa dengan gaya dan kebijakan yang brat bret brot,” kata Rizal.
Rizal menutup tulisannya dengan mengulang kalimat yang menjadi sorotan dari pidato Prabowo.
“Jangan, jangan, jangan datang lagi. Sudah, sudah, sudah tak mau lagi.”
“Nanti saking gobloknya jadi tolol, hwa ha ha,” pungkasnya.